PABRIK Karung Goni Delanggu menyedihkan. Padahal banyak kenangan masa kecil di kawasan pabrik itu.
Saya bisa main ayunan, bianglala, dan kadang “mencuri” bunga sedap malam di halaman Sang adminostratur Ndoro Muhammad Takim. Saya bisa masuk ke rumah gedong itu karena saya punya koneksi tukang kebon namanya Pakde Tuwo.
Bisa main tenis meja, juga berawal di Gedung Bola. Sebuah ruangan besar dilengkapi rumah dilingkari lapangan bola voli, lapangan tenis, dan ruang beratap yang di dalamnya berjajar lapangan tenis meja (pingpong).
Di situlah saya dan teman-teman kampung sekitar pabrik biasa bermain. Tapi tak semua anak berani memasukinya. Lagi-lagi ya… karena ada koneksi yang kemudian melatih bermain.
Lumayan sejak SMP dan SMA saya menjadi salah satu tim pemain singgle setiap pertandingan antar sekolah.
Ketika meletus G30S/PKI memberontak (saya tegas memang di Delanggu orang-orang PKI bergerak lebih dulu) sebelum RPKAD tiba pada pekan terakhir November 1965.

Setiap bakda asar, kami main ke Lapangan Merdeka, depan pabrik. Menyaksikan satu peleton (30-an) pasukan RPKAD berlatih lempar pisau komando dengan sasaran Pohon Trembesi di sekeliling lapangan.
Beberapa kali, kami sekitar dua puluhan anak usia SD dan SMP diajak naik truk tentara (kala itu truk Toyota). Bernyanyi sepanjang jalan.
Dalam perjalanan keliling Delanggu, melintasi beberapa desa. Dulu saya tak tahu kenapa ada kerumunan orang yang mengelu-elukan, melambaikan tangan, tetapi ada juga di beberapa dusun (bagian dari Desa dengan nama tersendiri, misanya Duaun Krapyak, Desa Kebonharjo) langsung mereka menutup pintu rumah ketika truk RPKAD yang melintasi dusunnya.
Teriakan Hidup ABRI bersahutan, ada juga Hidup Bung Karno. Sebaliknya, tak terdengar lagi yel-yel PKI Menang, Hidup Aidit. Kelak saya ditegur Kepala SD kami, nggak boleh teriak Hidup Bung Karno. Mas Djoko, …ayo Hidup ABRI ..saja ya.
Enam puluh tahun kemudian, kini lapangan Merdeka telah gersang….tak terawat melengkapi ambruknya Pabrik Karung Goni Delanggu yang dulu berkaryawan 2000-an ketika masa jayanya selama 1950-an akhir hingga 1980-an awal.
Barisan bangunan Loji para staf dan rumah nan luas dan indahnya sang administratur sang dipenuhi ilalang, gelap dan keberantakan bangunan. Begitu pula, musnahnya puluhan rumah petak buruh. Bahkan, katanya juga dijadikan objek perburuan hantu untuk konten medsos dan beberapa channel televisi. Waduuuh…..
Dampak sosial mulai menyeruak, munculnya tenaga kerja muda yang menganggur di sekitar pabrik. Kini muncul warung-warung seadanya dan sekenanya. Memang kemudian ditertibkan dibuatkan bangunan pasar, tetapi justru bertambah sektor jasa informal baik warung maupun kaki lima. Begitulah ….pabrik yang dulu menampung tenaga kerja, kini menyaksikan jalan dan taman sekitarnya dipenuhi orang mengais rejeki informal.
Dulu hampir setiap hari saya main ke Kamar Bola…tapi pernah diusir, agar main di lapangan sepakbola di depan Kamar Bola saja.
Lapangan bola itu dikitari puluhan Pohon Trembesi (di Delanggu di sebut Pohon Munggur, di Tatar, Sunda, namanya Ki Ujan). Rindang dan teduh rasanya. Lapangan bola itu bernama Merdeka, sebuah nama pemberian Bung Karno dan Bung Hatta ketika berkunjung ke Pabrik Karung Delanggu. Di kompleks seluas 22 hektare yang dikitari loji-loji ini pernah bermukim Kantor Telegrap, yaitu ketika Yogyakarta menjadi ibu kota RI (4 Januari 1946-27 Desember 1949).
Delanggu melahirkan sekian jenderal tentara dan polisi. Ada yang pernah menjadi wakil ketua DPR, Jenderal Polisi Danukusumo. Marsekal Muda Udara Djoko Sarwoko, puluhan dokter, insinyur dan sarjana hukum, ekonom, dan pelukis. Catatlah, Mas Dono Warkop juga dari Delanggu. Bahkan istri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano, juga berasal dari Delanggu. Lulus SD, istri Rano melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Delanggu.
Kenangan yang tak terlupakan. Pernah menjadi kebanggan, Delanggu yang kala itu berstatus Kawedanan sebagai himpunan 4 (empat) kecamatan, yaitu Wonosari, Juwiring, Ceper, dan Delanggu. Kota kecil yang dulu dilengkapi dengan dua bioskop, stasiun kereta api, kantor pos dan telepon….dan Lapangan Bola di depan Pabrik Karung Goni terbesar se Asia Tenggara.
Anak-anak muda Delanggu lebih berkiblat ke Solo (20 km jalan raya dan hanya 15 km jalur kereta api) ketimbang ke Klaten untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Untuk kuliah, perguruan tingginya akan berebut masuk ke Yogyakarta, sebutlah Universitas Gadjah Mada (UGM). Kecuali Mas Dono dan sebagian kecil yang ke Universitas Indonesia (UI), termasuk saya di FHUI, yang terpaksa melaluinya karena hembusan nasib terbawa angin ke Semarang (1975-1978) Akfarm, Bandung (1978-1982), Akademi Pos Giro, dan Jakarta 1982 FHUI. (*)