JAKARTAMU.COM | Sungguh indah jika 11 bulan ke depan, terasa seperti Ramadhan dan Lebaran. Sekalipun tanpa puasa sunnah setiap hari, sekalipun tanpa tahajjud berjama’ah di masjid. Tapi suasananya, suasana hati kita, Ramadhan dan Lebaran banget gitu. Bagaimana caranya???
Tentu saja dengan melanjutkan ketaatan pasca Ramadhan. Jangan justru sebaliknya:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)
Sejatinya, setiap hari adalah lebaran, jika kita berada di atas ketaatan pada Allah dan tidak bermaksiat. Ali bin Abi Thalib berkata:
اَلْيَوْمُ عِيْدُ مَنْ قُبِلَ صِيَامَهُ وَقِيَامُهُ، َوعِيْدُ مَنْ غُفِرَ ذَنْبُهُ وَشُكِرَ سَعْيُهُ وَقُبِلَ عَمَلُهُ، اَلْيَوْمُ لَنَا عِيْدٌ َوغَدًا لَنَا عِيْدٌ، وَكُلُّ يَوْمٍ لَا يَعْصِى اللهَ فِيْهِ فَهُوَ لَنَا عِيْدٌ.
“Setiap hari adalah ‘Ied (hari raya) bagi orang-orang yang diterima puasa dan shalatnya oleh Allah juga ‘Ied bagi orang-orang yang diampuni dosa-dosanya dan diterima amal-amalnya. Hari ini adalah ‘Ied bagi kami, begitu juga besok adalah ‘Ied bagi kami. Setiap hari yang padanya tidak dilakukan maksiat kepada Allah, maka itu adalah ‘Ied bagi kami.”
Wahb bin al-Ward pernah melihat sekelompok orang yang tertawa terpingkal-pingkal di hari ‘Ied, lantas beliau mengatakan (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Lathāif al-Ma’ārif 210):
إِنْ كَانَ هَؤُلَاءِ تُقْبَلُ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِيْنَ، وَإِنْ كَانَ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِيْنَ
“Jika mereka adalah orang yang diterima puasanya, maka tidak seperti ini kelakuan orang yang bersyukur. Jika mereka adalah orang yang belum diterima puasanya, maka bukan seperti ini kelakuan orang yang takut (tidak diterima puasanya).”
Ketaatan pasca Ramadhan adalah tanda diterimanya amal Ramadhan kita. Sebagian salaf mengatakan:
إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ اَلْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جِزَاءِ السَّيِّئَةِ اَلسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara ganjaran suatu kebajikan adalah; kebajikan setelahnya. Demikian pula di antara balasan keburukan adalah; keburukan setelahnya.”
Mu’alla bin Fadhl mengatakan:
كَانُوْا يَدْعُوْنَ الله تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ َرمَضَانَ، وَيَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ
“Mereka (para ulama salaf) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka menemui Ramadhan, dan mereka berdoa selama 6 bulan berikutnya agar Allah menerima puasa mereka.”
Yahya bin Abi Katsir berdo’a:
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ إِلَى َرمَضَانَ وَسَلِّمْ لِيْ َرمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah sampaikan aku ke Bulan Ramadhan dan sampaikanlah Bulan Ramadhan kepadaku, dan terimalah ibadah Ramadhanku.”
Wallāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.