UMAT Islam di Indonesia memiliki tradisi yang khas untuk menyambut datangnya Idulfitri di setiap daerah. Salah satunya ketupat, khususnya di Jawa. Bila perayaan Idulfitri pada tanggal 1 Syawal, Lebaran Ketupat dirayakan seminggu setelahnya, yaitu pada 8 atau 9 Syawal.
Ketupat adalah makanan dari beras. Cara membuatnya sama dengan lontong. Bedanya hanya pada kemasan atau pembungkus. Lontong umumnya menggunakan daun pisang, atau belakangan mulai banyak yang menggunakan plastik. Sementara kemasan ketupat selalu khas, yaitu daun kelapa (janur), dianyam membentuk persegi.
Ketupat menjadi sajian khas saat lebaran. Biasanya disantap dengan seperti opor atau sambal goreng. Namun juga tetap nikmat dengan lauk yang lain.Tentu ada alasan kuat makna filosofi soal ketupat yang membuat masyarakat Jawa khususnya, menganggapnya wajib ada sebagai sajian lebaran. Rasanya kurang sempurna meja makan saar lebaran tanpa ketupat.
Di masa lalu membuat ketupat membutuhkan perjuangan. Merangkai janur menjadi ketupat kosong sendiri pun membutuhkan ketelatenan. Ketupat setengah jadi itu lalu diisi beras lalu direbus selama beberapa jam. Takaran beras yang masuk rumah ketupat pun harus pas. Isi beras yang kurang membuat ketupat seperti nasi yang lembek setelah matang. Pun kalau berasnya kebanyakan, isi ketupat menjadi agak keras dan kenyal.
Kaum ibu dulu begadang memasak di malam takbiran demi menyediakan ketupat Idulfitri keesokan harinya. Setelah salat id, seluruh keluarga menyantap ketupat, benar-benar nikmat. Bukan semata-mata rasa ketupatnya, tetapi juga suasananya. Kini, ketupat matang sudah banyak dijual di pasar-pasar. Kalau malas ke pasar, ibu-ibu dengan mudah memesannya melalui toko oneline. Satu atau dua hari barang sudah datang.
Apa sebenarnya Lebaran Ketupat itu? Ini adalah perayaan setelah menyelesaikan puasa Syawal. Puasa sunah enam hari ini merupakan amalan yang menyempurnakan puasa Ramadan. Kalau puasa Sya’ban disebut sebagai pemanasan, puasa Ramadan adalah olahraga sesungguhnya, dan puasa syawal adalah fase pendinginan.
”Barang siapa yang berpuasa satu bulan Ramadhan, ditambah enam hari (Syawal) setelah Idul Fitri, pahala puasanya seperti pahala puasa satu tahun. Dan siapa yang mengerjakan satu amalan kebaikan, baginya sepuluh kebaikan.” (HR Ibnu Majah)
Dengan demikian, bisa dikatakan tradisi Lebaran Ketupat adalah bagian dari strategi dakwah Islam. Lebaran Ketupat sebagai titik klimaks puasa Syawal merupakan pengingat untuk tetap mempertahankan semangat Ramadan agar tidak cepat luntur. Tradisi ini sekaligus ingin meluruskan makna kemenangan Idulfitri dalam benak banyak orang, yaitu euphoria atas kebebasan dari belenggu.
Lebaran Ketupat adalah dakwah berbasis budaya, sebuah pendekatan yang mempertimbangkan dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam penyampaian pesan agama. Pendekatan ini mengakui bahwa budaya memiliki peran penting dalam pemahaman, penerimaan, dan praktik agama dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, pendekatan ini harus jelas dan terukur keberhasilannya, juga batas-batas syariatnya. Mana yang bisa dan tidak tidak boleh dijalankan, mana pula yang bisa dikompromikan secara arif dan bijaksana.