Jumat, April 4, 2025
No menu items!

Begundal van Karawang (13): Jebakan di Hutan Citarum

Must Read


DEDAUNAN lebat bergetar dihempas angin malam, menyembunyikan langkah-langkah cepat Loekas dan pasukannya yang bergerak menembus hutan di sepanjang tepian Sungai Citarum. Nafas mereka memburu, keringat bercucuran di dahi meski udara malam begitu dingin. Di belakang mereka, suara tembakan sporadis terdengar semakin jauh, namun derap langkah pasukan Belanda yang mengejar masih jelas terdengar.

“Kita harus lebih dalam masuk ke hutan,” bisik Burhan, sambil menahan nyeri di lengannya yang terluka. “Kalau tidak, mereka akan segera menemukan kita.”

Loekas mengangguk, matanya tajam memindai sekeliling. “Kita tidak hanya harus bersembunyi. Kita harus membalikkan keadaan.”

Mereka terus bergerak hingga mencapai sebuah lereng berbatu yang mengarah ke sungai. Loekas menahan langkahnya, lalu berlutut untuk mengamati jejak tanah.

“Belanda pasti mengira kita akan menyeberangi sungai,” gumamnya. “Tapi kita akan memanfaatkan hutan ini untuk menyiapkan jebakan.”

Mempersiapkan Perangkap

Para pejuang segera bergerak sesuai instruksi Loekas. Dengan cepat, mereka mengumpulkan ranting kering dan dedaunan untuk menutup beberapa lubang jebakan yang sudah ada di dalam hutan. Beberapa lainnya mengasah ujung bambu hingga runcing, menancapkannya di dasar lubang-lubang itu.

“Kita buat mereka terjebak dalam perangkap sendiri,” ujar Loekas sambil mengikat tali di antara batang-batang pohon, menciptakan perangkap sederhana yang akan menjatuhkan ranting-ranting besar ketika tersentuh.

Burhan dan beberapa orang lainnya menyiapkan panah api, sementara yang lain mengambil posisi di tempat-tempat yang tersembunyi di balik pepohonan.

“Tunggu sampai mereka cukup dalam,” bisik Loekas. “Jangan terburu-buru menyerang.”

Mereka semua mengangguk, lalu hening, menyatu dengan kegelapan malam.

Pasukan Belanda Masuk Perangkap

Tak lama kemudian, suara derap langkah semakin dekat. Cahaya obor menerangi hutan yang gelap, sementara pasukan Belanda menyebar, mencari jejak para pejuang yang mereka buru.

“Mereka pasti sudah menyeberang sungai,” ucap seorang serdadu dalam bahasa Belanda.

“Tapi beberapa jejak masih terlihat di sini,” sahut yang lain, suaranya ragu.

Saat mereka semakin dalam masuk ke hutan, terdengar suara keras—

Brak!

Seorang serdadu terjerembab ke dalam lubang jebakan. Jeritannya menggema di udara saat bambu-bambu runcing menusuk tubuhnya.

“Hati-hati! Ada perangkap!” seru komandan mereka.

Namun, terlambat.

Begitu mereka mulai mundur untuk menghindari lubang-lubang jebakan, Loekas memberikan isyarat dengan tangannya.

Syiing!

Anak-anak panah melesat dari berbagai arah, beberapa dengan ujung yang menyala api.

Kuda-kuda Belanda meringkik panik, sementara para serdadu berusaha berlindung di balik pohon.

Tiba-tiba, salah satu perangkap tali yang dipasang Loekas aktif—sebatang pohon tumbang mendadak, menimpa beberapa serdadu Belanda yang tidak sempat menghindar.

Pengejar Menjadi Yang Dikejar

Kekacauan melanda pasukan Belanda. Mereka yang semula mengejar kini justru menjadi pihak yang bertahan dari serangan tak kasat mata.

Loekas dan anak buahnya memanfaatkan momentum itu. Dengan cepat, mereka bergerak dari satu titik ke titik lain, menembakkan senjata api dan melempar tombak ke arah musuh.

“Tembak balik! Jangan biarkan mereka lari!” teriak seorang komandan Belanda.

Namun, para pejuang sudah lebih dulu bergerak. Mereka mundur ke jalur yang lebih gelap, sementara pasukan Belanda terus berjatuhan terkena perangkap dan serangan dadakan.

Tak sampai setengah jam, pasukan Belanda yang tersisa memilih mundur, meninggalkan mayat-mayat rekan mereka di dalam hutan.

Loekas mengamati dari kejauhan, memastikan tidak ada lagi ancaman. Ia lalu menarik napas dalam-dalam.

“Kita berhasil.”

Namun, pertempuran ini belum selesai. Loekas tahu Belanda tak akan tinggal diam setelah kekalahan ini.

Dan ia harus bersiap menghadapi serangan berikutnya.

(Bersambung seri ke-14: “Pengepungan di Cililitan”)

Tentara Berpolitik (bagian-3): Dwifungsi Dilahirkan Orla, Dibesarkan Orba

INDONESIA akhirnya merdeka seutuhnya. Mengalir dukungan internasional dari Uni Sovyet, Amerika Serikat, dan Australia. Indonesia sebelumnya hanya diakui enam...

More Articles Like This