DINI hari di Cililitan terasa mencekam. Di sebuah rumah panggung sederhana yang digunakan sebagai markas sementara, Loekas dan pasukannya berkumpul, membahas langkah selanjutnya setelah berhasil mengacaukan pasukan Belanda di hutan Citarum.
“Kita sudah memberi mereka tamparan keras,” ujar Burhan, sembari merawat luka di lengannya. “Tapi itu juga berarti mereka akan membalas dengan lebih brutal.”
Loekas mengangguk. “Benar. Belanda tidak akan diam saja setelah kekalahan itu. Mereka pasti akan mencari kita di setiap sudut kota.”
Di luar rumah, para pejuang lain bersiaga, senjata mereka dalam genggaman erat. Beberapa terlihat berjaga di sudut-sudut jalan, mengawasi setiap pergerakan mencurigakan.
Tiba-tiba, suara letusan senapan terdengar di kejauhan. Lalu disusul ledakan yang mengguncang tanah.
“Mereka datang!” seru seorang pejuang dari luar.
Loekas segera beranjak, mengambil senjata dan memberi isyarat kepada pasukannya. “Bersiap! Kita tidak akan menyerah tanpa perlawanan!”
Kepungan Pasukan Belanda
Seperti yang sudah diduga, pasukan Belanda datang dengan kekuatan besar. Mereka membawa kendaraan lapis baja, senjata berat, dan pasukan dalam jumlah lebih banyak dari sebelumnya.
Dari kejauhan, terlihat pasukan Belanda menyebar di beberapa titik strategis. Mereka menutup akses keluar dari Cililitan, memastikan Loekas dan pasukannya tidak memiliki jalan untuk melarikan diri.
“Kita sudah terkepung,” ujar seorang pejuang dengan napas berat.
“Tidak ada jalan keluar,” tambah yang lain.
Loekas tetap tenang. Ia mengamati sekeliling, mencari celah untuk membalikkan keadaan. “Selalu ada jalan keluar,” ujarnya. “Kita hanya perlu berpikir cepat.”
Sementara itu, pasukan Belanda mulai bergerak maju, menembakkan senjata mereka ke arah rumah-rumah yang dicurigai sebagai tempat persembunyian pejuang. Api mulai menyala di beberapa titik, membakar bangunan-bangunan kayu.
Perlawanan Tanpa Harapan
Loekas menginstruksikan pasukannya untuk menyebar, menyerang dari berbagai arah agar pasukan Belanda kebingungan.
Dari gang-gang sempit, para pejuang menembakkan senjata mereka, mengenai beberapa serdadu Belanda yang tidak waspada. Namun, jumlah mereka terlalu sedikit dibandingkan kekuatan musuh yang begitu besar.
Ledakan granat mengguncang tanah, menghancurkan rumah tempat beberapa pejuang bersembunyi. Asap hitam membumbung tinggi, menyelimuti langit Cililitan.
Burhan berlari ke arah Loekas, wajahnya dipenuhi keringat dan debu. “Kita tidak bisa bertahan lebih lama. Mereka terus menekan kita!”
Loekas menggertakkan giginya. Ia tahu jika terus bertahan di sini, maka mereka akan habis satu per satu.
“Kita harus keluar dari kepungan ini,” katanya. “Tidak ada pilihan lain.”
Melarikan Diri di Tengah Kepungan
Dengan sisa pasukan yang masih bertahan, Loekas menyusun rencana pelarian. Ia melihat ada sebuah saluran air kecil di belakang rumah-rumah warga, yang mungkin bisa digunakan sebagai jalan keluar.
“Kita bagi menjadi dua kelompok,” ujar Loekas. “Kelompok pertama akan menarik perhatian mereka dengan menyerang langsung. Kelompok kedua akan menyusup melalui saluran air dan keluar dari Cililitan.”
Burhan mengangguk. “Aku akan ikut kelompok pertama.”
Tanpa ragu, mereka segera bergerak. Kelompok pertama langsung menyerang pasukan Belanda dengan segala yang mereka miliki, menembakkan senjata, melemparkan bom molotov, dan menciptakan kekacauan di berbagai sudut kota.
Sementara itu, Loekas dan kelompok kedua menyelinap melalui saluran air yang gelap dan sempit.
Namun, pasukan Belanda bukanlah musuh yang bodoh. Mereka segera menyadari taktik ini dan mulai mengejar.
Di tengah perjalanan, terdengar suara tembakan dari arah belakang. Beberapa pejuang terkena peluru, tubuh mereka roboh ke dalam air yang keruh.
Loekas menggigit bibirnya, menahan amarah dan rasa kehilangan.
“Kita hampir sampai,” bisiknya kepada yang tersisa.
Setelah perjalanan yang terasa seperti seabad, mereka akhirnya keluar dari saluran air dan tiba di pinggiran kota. Tanpa membuang waktu, mereka langsung bergerak menuju tempat persembunyian baru.
Dari kejauhan, mereka masih bisa melihat Cililitan yang kini dikuasai Belanda, api masih berkobar, dan suara tembakan masih terdengar.
Loekas mengepalkan tangannya. Ini bukan akhir dari perjuangan mereka.
Ini baru permulaan dari perlawanan yang lebih besar.
(Bersambung seri ke-15: “Pertemuan Rahasia di Jatinegara”)