JATINEGARA, awal Januari 1948. Hujan rintik membasahi jalan-jalan yang sepi, hanya sesekali terlihat beberapa pedagang kaki lima yang masih bertahan di emperan toko. Di sebuah rumah tua yang letaknya tersembunyi di antara bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial, Loekas Kustaryo duduk bersama para pejuang yang tersisa. Tubuh mereka lelah, pakaian kotor dan basah setelah melarikan diri dari kepungan Belanda di Cililitan.
Burhan, yang sebelumnya memimpin kelompok pengalih perhatian, baru saja tiba. Wajahnya letih, tapi matanya masih menyala dengan semangat perlawanan. “Kami kehilangan banyak orang, Loekas,” katanya dengan suara berat. “Belanda sudah semakin gila. Mereka tahu kita masih ada di sekitar Jakarta.”
Loekas menghela napas panjang. “Aku sudah menduganya. Kita harus segera menyusun langkah baru.”
Di dalam rumah itu, hadir beberapa orang penting dalam perjuangan di Karawang-Bekasi. Salah satunya adalah Kiai Haji Noer Alie, sosok ulama yang selama ini menjadi tulang punggung perlawanan rakyat. Dengan jubahnya yang masih basah oleh hujan, ia duduk dengan tenang, memperhatikan wajah-wajah lelah di sekelilingnya.
“Perjuangan belum selesai, Loekas,” ucap Kiai Noer Alie pelan. “Tapi kita harus berhati-hati. Setelah kejadian di Rawagede dan Cililitan, Belanda akan lebih waspada.”
Loekas mengangguk. “Aku sepakat, Kiai. Karena itu, aku ingin mendengar pendapat kalian. Apa langkah kita selanjutnya?”
Ancaman Belanda yang Makin Brutal
Pembicaraan itu berlangsung dengan penuh ketegangan. Belanda telah meningkatkan patroli dan razia di seluruh Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, ada kabar bahwa pasukan khusus dari Batavia telah dikirim untuk mencari jejak Loekas dan kelompoknya.
“Belanda bukan hanya ingin menangkapmu, Loekas,” ujar seorang pejuang yang baru tiba dari Bekasi. “Mereka ingin menghabisimu. Mereka ingin mengakhiri legenda ‘Begundal van Karawang’ dengan cara apapun.”
Burhan menyeringai. “Kalau mereka ingin memburu kita, maka kita harus memberi mereka alasan untuk takut.”
“Tidak semudah itu, Burhan,” sela Kiai Noer Alie. “Aku tahu kau marah, kita semua marah. Tapi jika kita gegabah, maka lebih banyak rakyat yang akan menjadi korban.”
Suasana hening sejenak. Loekas memahami amarah Burhan, tapi ia juga sadar bahwa tindakan mereka harus diperhitungkan dengan matang.
“Kita perlu strategi baru,” ucapnya akhirnya. “Aku punya rencana.”
Rencana Serangan ke Tangsi Belanda
Loekas mengeluarkan sebuah peta yang sudah lusuh dari balik jaketnya. Ia menunjuk sebuah lokasi di dekat Jatinegara.
“Di sini,” katanya. “Tangsi Belanda di dekat Stasiun Jatinegara. Mereka menggunakan tempat itu sebagai pusat logistik dan markas kecil. Jika kita bisa menyerangnya, mereka akan kebingungan. Kita buat mereka merasa tidak aman di kota ini.”
Kiai Noer Alie mengangguk pelan. “Itu bisa berhasil, tapi bagaimana caramu melakukannya?”
Loekas tersenyum tipis. “Dengan cara yang selama ini selalu berhasil. Penyamaran dan sabotase.”
Rencana itu mulai disusun dengan detail. Para pejuang akan menyusup ke dalam tangsi dengan menyamar sebagai pekerja pribumi yang biasa keluar-masuk membawa logistik. Setelah masuk, mereka akan menanam bahan peledak dan menyerang dari dalam.
Burhan tertawa kecil. “Kau memang gila, Loekas.”
Loekas tersenyum. “Itulah sebabnya kita masih hidup sampai sekarang.”
Mata-Mata di Tengah Mereka
Namun, sebelum rencana itu dieksekusi, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Seorang kurir datang dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat.
“Belanda sudah tahu rencana ini!” katanya dengan napas terengah-engah.
Ruangan itu mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada kurir itu.
“Apa maksudmu?” tanya Loekas dengan suara tajam.
Kurir itu menelan ludah. “Ada mata-mata di antara kita. Informasi tentang pertemuan ini bocor. Pasukan Belanda sedang dalam perjalanan ke Jatinegara sekarang!”
Jantung Loekas berdegup kencang. Jika Belanda sudah mengetahui tempat persembunyian mereka, maka mereka semua dalam bahaya besar.
“Kita harus segera pergi!” seru Burhan.
Kiai Noer Alie berdiri, wajahnya tetap tenang meskipun situasi begitu genting. “Tidak semua dari kita bisa pergi bersamaan. Aku dan beberapa orang akan mengalihkan perhatian mereka. Loekas, kau dan pasukanmu harus segera meninggalkan tempat ini.”
Loekas menatap Kiai Noer Alie dengan sorot mata penuh hormat. Ia tahu bahwa sang kiai bersedia mengorbankan dirinya demi perjuangan ini.
“Kiai, aku…”
“Tidak ada waktu untuk berdebat, Nak,” potong Kiai Noer Alie dengan senyum tipis. “Pergilah. Aku akan bertahan di sini.”
Loekas menggertakkan giginya, tapi ia tahu ini satu-satunya cara. Dengan hati berat, ia memberi isyarat kepada pasukannya untuk bergerak keluar dari rumah itu melalui jalur belakang.
Dari kejauhan, terdengar suara derap sepatu pasukan Belanda yang semakin mendekat.
Perjuangan mereka belum berakhir. Ini baru awal dari pertempuran yang lebih besar.
(Bersambung seri ke-16: “Sabotase di Stasiun Jatinegara”)