HUJAN masih turun rintik-rintik ketika Loekas Kustaryo dan pasukannya bergerak cepat meninggalkan rumah persembunyian mereka di Jatinegara. Langkah mereka harus secepat kilat, sebab pasukan Belanda sudah bergerak dari arah timur. Cahaya lampu kendaraan patroli mulai terlihat di kejauhan, menyapu jalanan yang semakin sepi.
Di belakang, Kiai Haji Noer Alie dan beberapa pejuang tetap tinggal untuk mengalihkan perhatian. Mereka tidak akan bertempur secara terbuka, melainkan menciptakan kesan seolah-olah Loekas masih ada di sana. Doa-doa mereka mengiringi langkah Loekas dan kelompoknya yang menyusuri gang-gang sempit, menuju tempat tujuan berikutnya: Stasiun Jatinegara.
Rencana Besar di Stasiun Jatinegara
Sejak awal, Loekas sudah mengincar Stasiun Jatinegara sebagai titik serangan berikutnya. Stasiun itu menjadi jalur utama logistik Belanda, menghubungkan Batavia dengan wilayah-wilayah yang masih dalam cengkeraman mereka. Setiap hari, kereta-kereta penuh senjata, makanan, dan perbekalan melintas di jalur ini.
“Dengarkan baik-baik,” bisik Loekas kepada pasukannya setelah mereka bersembunyi di sebuah gudang tua dekat stasiun. “Kita tidak akan menyerang secara terang-terangan. Target kita adalah jalur kereta. Jika kita bisa menghancurkan rel, Belanda akan kehilangan rantai suplai penting mereka.”
Burhan, yang masih menyimpan amarah setelah kekacauan di Jatinegara, mengangguk mantap. “Bagaimana caranya?”
Loekas mengeluarkan beberapa batang bahan peledak yang sudah mereka siapkan sejak beberapa waktu lalu. “Kita pasang ini di bawah rel, tepat di persimpangan utama. Jika ledakan cukup kuat, jalur akan lumpuh total.”
Seorang pejuang lain, Rasyid, terlihat ragu. “Tapi, bagaimana kalau ada warga yang terkena dampaknya?”
Loekas menatapnya tajam. “Karena itu, kita harus pastikan bahwa jalur ini hanya dilalui oleh kereta logistik Belanda. Tidak ada warga yang boleh terkena dampaknya.”
Mereka mulai bergerak dalam kegelapan, menyusup melewati pagar-pagar kayu yang mengelilingi area stasiun. Para penjaga Belanda masih berjaga di beberapa titik, tapi mereka lebih fokus pada keamanan sekitar peron utama.
“Sekarang atau tidak sama sekali,” bisik Loekas.
Penyusupan ke Jalur Kereta
Dengan langkah hati-hati, Burhan dan Rasyid bergerak lebih dulu, membawa bahan peledak ke arah jalur kereta. Hanya ada waktu beberapa menit sebelum kereta logistik berikutnya melintas.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang serdadu Belanda sedang melakukan patroli tidak jauh dari posisi mereka.
Burhan menahan napas, tangannya meraba gagang belatinya. Jika tentara itu bergerak lebih dekat, mereka tidak punya pilihan selain bertindak.
Namun, sebelum Burhan bisa menarik pisaunya, Loekas bergerak lebih cepat. Dengan sekali gerakan, ia menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menarik kaki tentara itu ke dalam bayangan. Sebelum tentara itu sempat berteriak, sebuah tangan menutup mulutnya, dan belati Burhan meluncur cepat, mengakhiri nyawanya dalam sekejap.
“Kita tidak punya banyak waktu,” bisik Loekas. “Lanjutkan pemasangan!”
Dalam hitungan detik, bahan peledak berhasil dipasang di bawah jalur utama. Sebuah sumbu panjang dihubungkan ke tempat persembunyian mereka, cukup jauh agar mereka bisa menyalakan pemicunya tanpa terkena ledakan.
“Tunggu sampai kereta mendekat,” kata Loekas.
Mereka menunggu dalam sunyi. Angin malam berembus dingin, membawa aroma hujan yang masih tersisa. Dan akhirnya, dari kejauhan, terdengar suara gemuruh roda besi melaju di atas rel.
Kereta logistik Belanda datang.
Ledakan yang Menggetarkan Malam
Saat gerbong tengah melintas di titik yang telah mereka incar, Loekas mengisyaratkan Burhan untuk menyalakan sumbu. Api kecil mulai menjalar cepat, merambat ke arah bahan peledak yang tersembunyi di bawah rel.
Detik-detik terasa seperti selamanya.
Lalu—
BOOOOOM!!!
Ledakan besar mengguncang malam, menghancurkan sebagian jalur rel dan melontarkan gerbong-gerbong ke udara. Suara besi yang melengking dan kayu yang pecah terdengar di mana-mana. Api mulai membesar, menerangi malam dengan kobaran yang menyala-nyala.
Pasukan Belanda yang berjaga di stasiun segera berhamburan dalam kepanikan. Beberapa berteriak dalam bahasa mereka, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, Loekas dan pasukannya sudah mulai mundur, menghilang ke dalam bayangan sebelum Belanda sempat menyadari keberadaan mereka.
Dari kejauhan, Loekas menatap hasil kerja mereka. Kereta logistik itu kini terbakar, rel hancur, dan pasukan Belanda kacau balau. Itu berarti satu hal: mereka telah berhasil.
Namun, kemenangan kecil ini harus dibayar mahal. Tak lama setelah ledakan, suara sirene mulai meraung-raung di seluruh kota. Belanda mengirim lebih banyak pasukan ke Jatinegara. Jalanan mulai disisir, dan perburuan besar-besaran kembali dimulai.
Loekas menghela napas. Ia tahu, ini baru permulaan. Belanda tidak akan tinggal diam setelah kekalahan ini.
“Ini belum selesai,” gumamnya.
Dan ia benar. Perlawanan masih akan terus berlanjut.
(Bersambung seri ke-17: “Buronan Nomor Satu di Batavia”)