Jumat, April 4, 2025
No menu items!
spot_img

CERPEN: Catatan Terakhir untuk Aisyah

Must Read

Ahmad membuka lemari tua di kamar mendiang ibunya dengan hati berdebar. Lemari kayu jati yang sudah lapuk itu menyimpan aroma mistis kamper dan kenangan masa kecilnya. Di antara tumpukan kain lurik yang pernah dipakai ibunya saat mengajar mengaji dan album foto usang yang mulai menguning, matanya tertumbuk pada sebuah buku harian kulit coklat yang lapuk dengan tulisan tangan berbunyi “Untuk Aisyah, putriku” di sampulnya. Tangannya gemetar membuka halaman pertama. Ibunya meninggal sepuluh tahun lalu saat Aisyah masih berusia tiga tahun, tak sempat melihat cucunya tumbuh besar.

Setiap halaman buku itu berisi nasihat-nasihat yang ditulis dengan huruf tegak bersambung khas guru mengaji seperti ibunya:

“Bila kau berbuat baik namun dilupakan, tetaplah berbuat baik…”

Ahmad tersenyum getir sambil mengusap debu yang menempel di jarinya. Ini persis seperti ucapan ibunya dulu—wanita yang tak pernah lelah membantu tetangga meski mereka sering memfitnahnya sebagai pencari popularitas. Ia masih ingat betul bagaimana ibunya tetap membagikan bubur setiap subuh meski ada yang berbisik ia hanya ingin dipuji.

Halaman berikutnya tertulis:

“Bila kau jujur namun ditipu, tetaplah jujur…”

Lelaki berusia 40 tahun itu teringat bagaimana ibunya mempertahankan warung sembako murahnya di gang kecil itu. Pedagang lain sampai menyabotase pasokan berasnya, tapi ibunya tak pernah membalas. “Allah yang akan membalas,” begitu katanya sambil menyusun kembali kaleng-kaleng susu yang sengaja dijatuhkan orang.

Saat membalik halaman terakhir, Ahmad terkejut. Ada tulisan berbeda dengan tinta merah yang sudah memudar:

“Aisyah sayang, maafkan Ibu. Dokter mengatakan tumor di otakku akan membuatku pelupa. Kupilih menulis semua nasihat ini sekarang, sebelum aku tak lagi mengenalimu… Sebelum aku tak bisa lagi mengingat wajahmu yang lucu saat tertawa. Peluk erat buku ini, Nak. Ini adalah pelukan terakhir ibumu.”

Dada Ahmad sesak. Air matanya menetes membasahi tulisan itu. Selama ini, ia mengira ibunya sengaja mengabaikan Aisyah kecil yang sering menangis memanggilnya. Ia tak pernah tahu ibunya sedang berperang melawan penyakit yang merenggut ingatannya perlahan-lahan.

Dari balik pintu kamar, Aisyah—kini remaja 15 tahun dengan jilbab biru langit favoritnya—berbisik lirih:
“Ayah, ini jawaban kenapa aku tetap membagi bekal untuk Rina yang selalu mencuri makananku. Nenek pernah berbisik padaku di malam terakhirnya: ‘Kebaikan itu seperti hujan—tak peduli tanah yang menerimanya berbatu atau subur, ia tetap akan turun dengan kasih-Nya.'”

Ahmad menatap tak percaya. Ternyata selama ini, tanpa sepengetahuannya, Aisyah telah menjalankan wasiat tersembunyi sang nenek dengan caranya sendiri.

Kilas Balik:
Ahmad teringat malam ketika ibunya menghembuskan nafas terakhir. Wanita itu memegang erat tangan Aisyah kecil sambil berbisik sesuatu yang tak pernah ia pahami. Kini semua menjadi jelas.

Di balkon rumah yang menghadap ke taman kota, Ahmad menemukan pot kecil berlabel “Bunga untuk Aisyah” tersembunyi di balik tirai. Di bawahnya terselip catatan kuning dengan tulisan yang sudah memudar:
“Tanamlah meski kau tak akan menikmati bunganya. Biarlah Allah yang menghitung kelopaknya, yang mencatat aromanya, dan yang mengetahui warnanya. Karena kebaikan sejati adalah yang ditabur tanpa mengharap panen.”

Angin sore membawa aroma melati yang semerbak—persis seperti parfum sederhana yang selalu dipakai ibunya saat mengajar mengaji dulu. Di kejauhan, azan maghrib mulai berkumandang, menyatu dengan tangis Ahmad yang tak lagi bisa dibendung.

Konflik Akses Pantai di Labuan Bajo: Antara Kepentingan Publik dan Investasi Pariwisata

JAKARTAMU.COM | Labuan Bajo, yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah lama dikenal sebagai...

More Articles Like This