DI sebuah desa kecil yang damai, hiduplah dua sahabat karib, Siti dan Wati. Mereka berdua terkenal sebagai pengrajin tikar anyaman terbaik di desa itu. Setiap pagi, mereka duduk di bawah rindangnya pohon bambu, menganyam tikar sambil berbincang ringan.
“Wati, kau tahu tidak? Semalam aku mimpi aneh,” kata Siti sambil tertawa kecil.
“Mimpi apa, Sit? Jangan bilang kau mimpi jadi istri pangeran lagi!” Wati menggoda.
“Bukan, bukan! Aku mimpi tikar kita ini jadi terkenal sampai ke luar negeri. Bahkan ada yang memesan dari kerajaan Arab!” Siti terkikik geli.
“Hahaha, kalau begitu, kita harus siap-siap paspor dan belajar bahasa Arab dulu!” balas Wati sambil meneruskan anyamannya.
Mereka tertawa lepas. Namun di balik keceriaan itu, usaha tikar mereka sedang mengalami masa sulit. Sejak munculnya karpet impor yang murah, pesanan tikar anyaman mulai menurun drastis.
Suatu hari, Pak Lurah mengadakan rapat desa untuk mencari solusi bagi usaha-usaha yang mulai sekarat. Siti dan Wati datang dengan harapan mendapatkan ide baru.
“Saudara-saudaraku sekalian, kita harus berpikir kreatif! Kita harus inovatif!” kata Pak Lurah dengan penuh semangat.
Tiba-tiba, seorang pemuda desa bernama Joko mengangkat tangan. “Pak Lurah, bagaimana kalau kita jadikan tikar ini sebagai produk wisata? Misalnya, kita bikin kursus menganyam untuk wisatawan!”
Semua terdiam sejenak, lalu terdengar tepuk tangan meriah. Ide itu sangat menarik!
“Wati, ini kesempatan kita! Bayangkan, kita mengajarkan bule-bule cara menganyam tikar!” bisik Siti dengan mata berbinar.
“Iya, dan nanti kita bisa bilang ‘Hello, mister! This is tikar, not carpet!'” Wati menimpali, membuat mereka berdua tertawa.
Dengan semangat baru, Siti dan Wati mulai menata ulang usaha mereka. Mereka memasang papan bertuliskan “Workshop Anyaman Tikar Tradisional” di depan rumah. Tak disangka, turis-turis mulai berdatangan.
Hari pertama, mereka mendapat tamu dari Jepang, seorang wanita paruh baya bernama Sakura. Ia sangat antusias belajar menganyam, tapi tangannya terlalu kaku.
“Ahh! Ini susah sekali!” keluhnya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata.
“Pelan-pelan, madam! Jangan sampai tikarnya jadi bentuk origami!” ujar Siti, membuat semua tertawa.
Hari berikutnya, datang rombongan turis dari Prancis. Salah satu dari mereka, seorang pria tinggi bernama Pierre, mencoba menganyam tikar, tetapi anyamannya malah menyerupai jaring ikan.
“Monsieur, ini bukan keranjang, ini tikar!” celetuk Wati sambil terkikik.
Pierre hanya mengangkat bahu dan tertawa.
Usaha mereka mulai kembali hidup. Tidak hanya menjual tikar, mereka juga mendapat penghasilan dari kursus menganyam. Setiap sore, rumah mereka ramai oleh suara tawa para wisatawan yang mencoba menganyam.
Suatu hari, datang seorang pria berkacamata dengan pakaian necis. Ia memperkenalkan diri sebagai Pak Taufik, seorang pengusaha hotel di kota.
“Saya tertarik dengan produk kalian. Saya ingin memesan 200 tikar untuk dekorasi hotel saya,” katanya.
Siti dan Wati ternganga. Mereka saling menatap tak percaya.
“Serius, Pak? 200 tikar? Nanti tamunya malah tidur di lantai semua!” Wati bercanda, membuat suasana semakin riuh.
Akhirnya, berkat ketekunan dan semangat mereka, usaha tikar anyaman kembali berjaya. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang pesat. Desa mereka menjadi destinasi wisata budaya yang terkenal.
Beberapa bulan kemudian, Siti dan Wati bahkan diundang ke sebuah acara wirausaha nasional untuk berbagi pengalaman mereka. Di sana, mereka bertemu dengan banyak pengusaha sukses yang tertarik dengan konsep anyaman mereka.
“Bu Siti, apakah benar usaha ini awalnya hampir bangkrut?” tanya seorang wartawan.
“Betul sekali! Kami bahkan sempat berpikir untuk gulung tikar! Tapi ya, karena usaha kami memang bikin tikar, akhirnya kami gulung tikar setiap hari!” Siti menjawab santai.
Suasana langsung pecah dengan tawa hadirin. Wati menepuk bahu Siti, “Kalau begini, kau harus belajar jadi komedian juga!”
Seiring waktu, usaha mereka semakin berkembang. Mereka mulai menggandeng anak-anak muda desa untuk belajar menganyam, bahkan membuka kelas online bagi yang tertarik belajar dari jauh. Tak lama kemudian, seorang pangeran dari Timur Tengah benar-benar memesan tikar mereka untuk dekorasi istana!
Pada suatu pagi yang cerah, Siti dan Wati duduk di bawah pohon bambu seperti biasa. Mereka tersenyum puas melihat tumpukan tikar yang siap dikirim ke berbagai tempat.
“Wati, kau ingat mimpiku dulu?” tanya Siti.
“Iya! Sekarang mimpi itu jadi kenyataan. Tapi sayang, belum ada pesanan dari kerajaan Arab!” balas Wati.
“Tenang, mungkin nanti kita dapat undangan umroh gratis sebagai bonus!” sahut Siti, lalu mereka berdua tertawa bahagia.
Terkadang, hidup memang memberi tantangan, tapi selama masih ada senyum dan semangat, selalu ada jalan keluar. Dan itulah yang mereka buktikan—bahwa bahkan dalam keadaan “gulung tikar”, mereka tetap bisa tersenyum dan bangkit kembali.