Senin, Maret 31, 2025
No menu items!
spot_img

CERPEN : Ujian Tak Bertepi

Must Read

Hujan turun pelan, mengetuk jendela kamar Zahra dengan ritme yang tak beraturan. Di dalam, gadis itu duduk diam di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata kosong. Jemarinya perlahan menyentuh kain hijab yang telah melekat di kepalanya selama bertahun-tahun.

Sejak kecil, Zahra tumbuh dalam keluarga yang taat. Ayahnya, seorang pejabat yang dihormati, dikenal sebagai pria berwibawa dan berintegritas tinggi. Ibunya, Bu Atalia, adalah sosok muslimah yang anggun, lembut, dan senantiasa mengajarkan kebaikan. Keluarga mereka tampak sempurna di mata banyak orang. Tapi Zahra tahu, kesempurnaan itu hanyalah ilusi yang rapuh.

Dua tahun lalu, dunianya runtuh ketika kakaknya, laki-laki yang selalu menjadi pelindungnya, meninggal dalam kecelakaan. Hari itu, suara tangisan ibunya menggema di rumah mereka, merayap ke setiap sudut, meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Sejak saat itu, Bu Atalia semakin mendekatkan diri pada agama. Ia lebih sering menghabiskan waktu di atas sajadah, membaca Al-Qur’an dengan linangan air mata, seolah berusaha mencari jawaban atas kehilangan yang begitu menyakitkan.

Namun, sekeras apa pun usaha ibunya untuk tampak tegar, Zahra tahu bahwa kehilangan itu mengubah segalanya. Rumah mereka yang dulu hangat kini terasa sunyi. Ibunya lebih sering larut dalam ibadah, sementara ayahnya semakin sibuk di luar rumah. Zahra merasa seperti orang asing di keluarganya sendiri.

Lalu, kabar itu datang.

Awalnya, hanya bisik-bisik samar. Teman-temannya mulai berbisik-bisik setiap kali melihatnya di kampus. Tatapan kasihan sering menghampiri, meski tak ada satu pun yang berani berkata langsung. Hingga akhirnya, ia melihat berita itu sendiri.

“Pejabat Terkemuka Diduga Terlibat Korupsi dan Skandal Perselingkuhan.”

Darahnya berdesir. Nama ayahnya disebut di sana, bersama bukti-bukti yang mengarah pada kemungkinan besar bahwa tuduhan itu benar. Tak hanya itu, beberapa akun anonim mulai menyebarkan foto seorang wanita muda yang diduga adalah selingkuhan ayahnya. Perempuan itu jauh lebih muda daripada ibunya. Dengan riasan tebal dan pakaian yang mencolok, sosoknya begitu kontras dengan ketulusan dan kesederhanaan yang selalu dimiliki Bu Atalia.

Berita itu menyebar seperti api di padang ilalang. Media sosial Zahra dipenuhi pesan dari orang-orang yang ingin tahu kebenaran atau sekadar menghujat. Beberapa akun bahkan mulai mengulik kehidupan pribadinya, mempertanyakan apakah dirinya tahu dan ikut menikmati kekayaan hasil korupsi ayahnya.

Ia ingin menepis semua itu, ingin percaya bahwa ayahnya adalah pria yang selama ini ia kagumi. Tapi bukti-bukti yang semakin banyak membuatnya ragu. Ibunya hanya diam. Tidak membantah, tidak juga membenarkan.

“Ayah tetap suamiku, dan aku akan menunggunya menjelaskan sendiri,” kata Bu Atalia dengan suara yang hampir tanpa emosi.

Zahra tidak mengerti. Bagaimana ibunya bisa tetap setenang itu? Bagaimana ia bisa menerima semua ini tanpa melawan?

Namun, mungkin itulah kesalahan ibunya yang terbesar.

Bu Atalia terlalu percaya. Terlalu pasrah. Terlalu larut dalam ibadah, hingga tak lagi melihat kenyataan yang ada di hadapannya. Ia membiarkan ayah hidup dalam dunianya sendiri, tanpa mempertanyakan ke mana uang yang selama ini masuk ke rekening keluarga mereka. Ia memilih diam saat bisik-bisik tentang perselingkuhan itu semakin deras. Ia berpura-pura buta, meskipun hatinya mungkin sudah lama hancur.

Dan sekarang, Zahra yang harus menanggung semuanya.

Ia tidak bisa berjalan di kampus tanpa mendengar bisikan orang-orang. Tak ada lagi teman yang benar-benar berani menemuinya, kecuali mereka yang datang hanya untuk mengorek informasi. Media sosialnya dipenuhi dengan komentar pedas, seolah dirinya turut bersalah atas dosa yang belum tentu ia lakukan.

Di tengah semua itu, satu pertanyaan terus menghantuinya: Jika ibunya yang begitu salehah saja tak mampu mempertahankan rumah tangganya, apa gunanya semua itu? Apa gunanya menjadi baik jika akhirnya tetap disakiti?

Malam itu, dengan tangan gemetar, Zahra melepas hijabnya.

Ia tidak tahu apakah ini bentuk pemberontakan atau hanya usaha putus asa untuk menemukan kendali atas hidupnya sendiri. Yang ia tahu, ia ingin lepas dari semua bayang-bayang ini.

Namun, sebelum ia sempat mencerna perasaannya, pintu kamarnya diketuk. Bu Atalia berdiri di sana, menatapnya dengan mata yang lembut tapi penuh luka.

“Kamu mencari jawaban, ya, Zahra?” suara ibunya pelan.

Zahra menggigit bibirnya. “Aku… Aku hanya lelah, Mah. Semua ini terasa tidak adil.”

Bu Atalia tersenyum kecil, tapi sorot matanya sendu. “Kadang, saat kita diuji, kita merasa kehilangan kendali atas hidup kita sendiri. Kita mencoba menemukan jawaban dengan cara kita… seperti yang kamu lakukan sekarang.”

Zahra menunduk, jemarinya meremas kain hijab di pangkuannya.

“Ayahmu… bukan alasan kamu menanggalkan keyakinanmu, kan?” lanjut ibunya.

Zahra terdiam. Ia ingin berkata bahwa semuanya tak sesederhana itu. Tapi di lubuk hatinya, ia tahu ibunya benar.

Bu Atalia mengusap kepala putrinya lembut. “Aku tidak akan memaksamu, Zahra. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat, jangan biarkan kesalahan orang lain mengubah siapa dirimu sebenarnya.”

Zahra menatap ibunya, ingin menangis, ingin meminta waktu untuk memahami semuanya. Namun sebelum sempat mengucapkan apa pun, ponselnya bergetar di meja.

Sebuah notifikasi berita muncul di layar.

“Kasus Korupsi Besar, Seorang Pejabat Terlibat Skandal dan Dijebak Kolega Sendiri.”

Zahra membacanya dengan jantung berdegup kencang. Nama ayahnya ada di sana, disebut sebagai korban permainan politik.

Tangannya gemetar.

Seumur hidupnya, ia mengira memahami segalanya. Namun kini, justru ia yang tersesat dalam dugaannya sendiri.

Matanya beralih ke cermin, ke pantulan dirinya sendiri—seorang gadis yang telah mengambil keputusan besar berdasarkan asumsi yang mungkin salah.

Dan tiba-tiba, hijab di pangkuannya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Haedar Nashir: Orang Takwa yang Berkuasa Bakal Amanah

BANTUL, JAKARTAMU.COM | Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan setiap muslim yang benar-benar mempraktikkan sikap takwa dalam...

More Articles Like This