Kamis, April 3, 2025
No menu items!
spot_img

Garuda Indonesia Catat Kerugian Triliunan Rupiah, Ini Penyebab dan Upaya Pemulihannya

Must Read

JAKARTA, JAKARTAMU.COM | Maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, kembali mencatat kerugian signifikan sepanjang tahun 2024. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, perusahaan mengalami rugi bersih sebesar US$69,78 juta atau setara dengan Rp1,15 triliun. Kerugian ini terjadi di tengah upaya perusahaan dalam meningkatkan layanan dan jumlah armada operasional guna bersaing di industri penerbangan yang semakin kompetitif.

Faktor Penyebab Kerugian

Salah satu faktor utama penyebab kerugian adalah meningkatnya beban usaha sebesar 18,32 persen. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh:

  1. Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat
    Banyak armada yang memasuki jadwal perawatan besar (overhaul), sehingga meningkatkan biaya operasional secara signifikan. Ditambah dengan biaya suku cadang yang terus merangkak naik, beban pemeliharaan menjadi tantangan tersendiri bagi keuangan maskapai.
  2. Kenaikan Harga Bahan Bakar
    Harga avtur yang terus meningkat memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional penerbangan. Sebagai salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya maskapai, fluktuasi harga bahan bakar menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh Garuda Indonesia.
  3. Kurs Rupiah yang Melemah
    Sebagai perusahaan yang beroperasi dengan transaksi berbasis dolar AS, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar turut memperburuk kondisi keuangan. Sebagian besar kewajiban, termasuk biaya leasing pesawat, dilakukan dalam mata uang asing yang semakin membebani perusahaan.
  4. Persaingan dengan Maskapai Lain
    Industri penerbangan di Indonesia semakin kompetitif dengan kehadiran maskapai berbiaya rendah (LCC) yang menawarkan harga tiket lebih terjangkau. Hal ini membuat Garuda Indonesia harus berupaya lebih keras dalam menarik dan mempertahankan pelanggan tanpa harus mengorbankan pendapatan.

Pertumbuhan Penumpang dan Upaya Pemulihan

Meskipun mengalami kerugian, Garuda Indonesia mencatat pertumbuhan jumlah penumpang yang diangkut. Pada kuartal ketiga 2024, jumlah penumpang mencapai 17,73 juta orang, meningkat seiring dengan kenaikan frekuensi penerbangan sebesar 12,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan juga telah menetapkan target untuk mengoperasikan hingga 100 armada pesawat pada akhir 2025 sebagai bagian dari strategi pemulihan dan ekspansi. Dengan langkah ini, diharapkan Garuda Indonesia dapat meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas jangkauan layanan ke berbagai destinasi strategis.

Sebelumnya, pada semester pertama 2024, Garuda Indonesia melaporkan kerugian sebesar US$101,66 juta atau sekitar Rp1,54 triliun. Faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan kinerja keuangan saat itu adalah kenaikan biaya operasional, terutama yang berkaitan dengan bahan bakar serta pemeliharaan dan perbaikan pesawat.

Strategi Efisiensi dan Pemulihan Keuangan

Dalam menghadapi tantangan ini, manajemen Garuda Indonesia terus mengimplementasikan berbagai strategi guna memperbaiki kondisi keuangan perusahaan, di antaranya:

  1. Optimalisasi Rute Penerbangan
    Garuda Indonesia melakukan evaluasi terhadap rute-rute yang kurang menguntungkan dan mengoptimalkan jalur penerbangan yang memiliki potensi pasar tinggi.
  2. Restrukturisasi Biaya Operasional
    Perusahaan berupaya mengurangi beban operasional dengan menegosiasikan ulang kontrak leasing pesawat dan melakukan efisiensi dalam penggunaan bahan bakar.
  3. Diversifikasi Sumber Pendapatan
    Selain layanan penerbangan reguler, Garuda Indonesia terus mengembangkan bisnis kargo dan charter guna menambah pemasukan.
  4. Peningkatan Layanan dan Loyalitas Pelanggan
    Fokus pada peningkatan layanan, digitalisasi, serta program loyalitas bagi pelanggan setia diharapkan dapat meningkatkan daya saing maskapai.

Meskipun Garuda Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengembalikan profitabilitas, langkah-langkah strategis yang diterapkan diharapkan dapat memperbaiki kondisi keuangan dalam jangka panjang. Dengan kombinasi efisiensi biaya, ekspansi rute yang lebih selektif, serta peningkatan layanan, Garuda Indonesia berupaya bangkit dari tekanan finansial dan kembali menjadi maskapai yang kompetitif di industri penerbangan nasional dan internasional.

Dr. Khoirul Anwar: Ilmuwan Asal Kediri di Balik Teknologi 4G LTE yang Mendunia

JAKARTAMU.COM | Tak banyak yang tahu bahwa teknologi jaringan 4G LTE yang kini digunakan miliaran pengguna di seluruh dunia...

More Articles Like This