Kamis, Maret 27, 2025
No menu items!
spot_img

Gonggongan Anjing: Peringatan yang Tak Boleh Diabaikan

spot_img
Must Read

JAKARTAMU.COM | Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, suara gonggongan anjing sering dianggap angin lalu. Ia terdengar di kejauhan, lalu lenyap begitu saja, seolah tak bermakna. Padahal, bagi mereka yang peka, gonggongan anjing adalah pertanda. Ia bisa menjadi isyarat adanya bahaya, gangguan, atau sesuatu yang tak beres di sekitar. Namun, masalahnya, banyak orang yang lebih suka mengabaikan peringatan dini, memilih tetap nyaman dalam kesibukan atau bahkan asyik berjoget dalam pesta.

Fenomena ini bukan hanya berlaku dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam dinamika sosial dan politik. Rakyat di jalanan yang menggelar aksi, yang berteriak lantang menyuarakan keadilan, ibarat gonggongan anjing di tengah malam. Sebagian penguasa mendengarnya, tetapi memilih untuk tak peduli. Ada yang bahkan menganggapnya sebagai kebisingan yang mengganggu kenyamanan. Padahal, suara-suara itu hadir bukan tanpa alasan.

Ketika Peringatan Diabaikan

Sejarah telah mencatat bagaimana berbagai aksi protes rakyat yang pada awalnya kecil dan terkesan sepele bisa berkembang menjadi gelombang besar yang tak terbendung. Lihatlah bagaimana revolusi-revolusi besar dunia bermula. Dari Perancis, Rusia, hingga negara-negara di Timur Tengah, semua bermula dari suara-suara yang dianggap tak penting. Para penguasa terlalu sibuk dengan kekuasaan mereka, mengabaikan sinyal-sinyal yang datang dari bawah. Sampai akhirnya, ketika badai sudah membesar, semuanya terlambat untuk diperbaiki.

Di negeri ini, kita melihat pola yang sama berulang. Demo mahasiswa, aksi buruh, suara petani yang kehilangan tanahnya, jeritan rakyat kecil yang sulit memenuhi kebutuhan hidup—semua adalah gonggongan yang seharusnya diperhatikan. Tapi apa yang dilakukan? Sebagian pemimpin malah memilih untuk sibuk dengan citra diri, pesta pora, atau sekadar berbasa-basi tanpa solusi nyata.

Antara Joget dan Realitas

Ada ungkapan, “Ketika rakyat menangis, penguasa tak boleh tertawa.” Tapi faktanya, justru banyak yang memilih berjoget di atas penderitaan. Ketika harga kebutuhan pokok melonjak, sebagian pejabat malah sibuk membanggakan pertumbuhan ekonomi. Ketika mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keresahan, ada yang malah membuat lelucon atau mencari pembenaran. Ketika buruh menuntut upah layak, ada yang malah sibuk dengan seremoni dan peresmian proyek megah yang tak berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

Joget, dalam makna harfiahnya, adalah simbol kesenangan. Tidak ada yang salah dengan bersenang-senang. Tapi ketika kesenangan itu membutakan dari realitas, ketika pesta menjadi cara melupakan tanggung jawab, di situlah masalah terjadi. Rakyat bisa bersabar, tapi kesabaran ada batasnya.

Gonggongan yang Berubah Jadi Auman

Jika gonggongan anjing tak dihiraukan, lama-lama ia bisa berubah menjadi auman singa. Protes kecil bisa membesar menjadi gerakan yang tak terbendung. Ketidakadilan yang dibiarkan bisa berkembang menjadi bara yang membakar. Ini bukan ancaman, tetapi kenyataan sejarah.

Maka, bagi mereka yang berada di tampuk kekuasaan, mendengar bukan sekadar formalitas. Respons yang nyata, solusi yang konkret, dan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat adalah kunci. Jangan menunggu sampai gonggongan berubah menjadi gelombang yang menggulung segalanya. Karena ketika itu terjadi, tak ada lagi ruang untuk berjoget—hanya kepanikan yang tersisa. (Dwi Taufan Hidayat)

spot_img

Gubernur Jateng Lepas Ribuan Pemudik Gratis dari Jabodetabek

JAKARTAMU.COM | Ribuan warga Jawa Tengah yang merantau di Jabodetabek kini dapat pulang ke kampung halaman dengan lebih mudah...

More Articles Like This