JAKARTAMU.COM
- Konteks Historis: Cikal Bakal dalam Gelora Nasionalisme
Pada awal abad ke-20, Indonesia menghadapi tantangan kolonialisme yang mendorong lahirnya gerakan pembaruan Islam dan kebangsaan. Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1912, tidak hanya fokus pada dakwah dan pendidikan, tetapi juga merespons kebutuhan mendesak akan pembinaan pemuda yang tangguh secara fisik dan mental.
Pasca Perang Dunia I (1918), gelombang nasionalisme menguat di Hindia Belanda. Organisasi seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam aktif membangun kesadaran kebangsaan. Dalam atmosfer inilah Muhammadiyah melihat perlunya wadah yang mengintegrasikan nilai Islam dengan semangat cinta tanah air—sebuah respons terhadap gerakan kepanduan (padvinderij) Belanda yang dominan saat itu.
- Kelahiran Hizbul Wathan: Dari Padvinder ke Identitas Mandiri
Pada 1918, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Padvinder Muhammadiyah dengan bimbingan Raden H. Hadjid—seorang tokoh Muhammadiyah yang mengusulkan nama “Hizbul Wathan” (Arab: حِزْبُ الْوَطَنِ, “Partai Tanah Air”). Nama ini dipilih sebagai penegasan visi kebangsaan yang berlandaskan tauhid.
Awalnya, kegiatan berfokus pada:
- Latihan fisik: Baris-berbaris, pionering, dan keterampilan bertahan hidup.
- Pendidikan karakter: Disiplin, kepemimpinan, dan kerja sama tim.
- Dakwah: Penyisipan nilai Islam dalam setiap aktivitas.
Pada 1920-an, organisasi ini dikelola oleh bagian sekolah Muhammadiyah, menjadi ekstrakurikuler wajib di lembaga pendidikan Muhammadiyah sekaligus strategi melawan hegemoni pendidikan kolonial.
- Peran Strategis dalam Pergerakan Nasional
Hizbul Wathan (HW) bukan sekadar gerakan kepanduan, melainkan laboratorium nasionalisme yang:
- Mempersiapkan kader revolusi: Anggota HW terlibat dalam jaringan perlawanan non-kooperatif terhadap Belanda, seperti pengiriman kurir dan penyediaan logistik.
- Menyemai kesadaran berbangsa: Melalui lagu-lagu perjuangan dan upacara bendera dengan simbol-simbol Islam-Nusantara.
- Merintis pendidikan inklusif: Membuka ruang bagi perempuan melalui Nasiatul Aisyiyah (sayap HW untuk putri) sejak 1922—terobosan di era ketika perempuan jarang dilibatkan dalam aktivitas publik.
Tokoh kunci:
- KH. Mas Mansyur (Ketua HW 1937) yang kelak menjadi tokoh “Empat Serangkai” bersama Soekarno-Hatta-Ki Hajar Dewantara.
- Siti Walidah Dahlan (istri KH. Ahmad Dahlan) yang mendorong partisipasi aktif perempuan di HW.
- Jenderal Sudirman: Panglima Besar TNI pertama ini adalah bukti nyata hasil gemblengan HW. Semangat kepanduan dan disiplin yang ditanamkan HW turut membentuk karakter kepemimpinannya dalam memimpin gerilya melawan penjajah.
- Analisis Dampak: Warisan yang Bertahan Hingga Kini
a. Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid dan Kebangsaan
HW memelopori model “scouting with Islamic values” melalui:
- Sistem tingkatan: Mulai dari Qobil (pemula) hingga Muntaqo (lanjutan) dengan kurikulum yang mengintegrasikan ayat Al-Qur’an dan sejarah perjuangan Indonesia.
- Simbolisasi: Seragam hijau dengan logo bumi dan rantai melambangkan persatuan umat dan bangsa.
b. Kontribusi untuk NKRI
- Masa Revolusi: Kader HW menjadi tulang punggung Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar Hizbullah-Sabilillah.
- Era Kemerdekaan: HW turut serta dalam Kongres Kepanduan Indonesia 1951 yang melahirkan Gerakan Pramuka.
c. Relevansi Modern
Di era globalisasi, HW tetap mempertahankan relevansinya melalui:
- Program lingkungan: Kampanye anti-sampah dan penghijauan masjid.
- Digital dakwah: Pelatihan konten kreatif untuk anggota muda.
- Respons bencana: HW aktif dalam tim relawan Muhammadiyah saat tsunami Aceh 2004 dan gempa Lombok 2018.
- Kesimpulan: Jejak yang Tak Terhapus
Hizbul Wathan adalah bukti bahwa nasionalisme dan Islam bukanlah dikotomi, melainkan dua sisi mata uang yang menyatu dalam gerakan nyata. Dari rahimnya lahir kader-kader yang berperan ganda: sebagai mujahid dakwah dan pejuang kemerdekaan.
Kini, di usianya yang ke-106 tahun (2024), HW terus membuktikan diri sebagai “sekolah peradaban” yang melahirkan pemimpin berakhlak Qur’ani dan berjiwa Pancasila.
Penutup:
“HW mengajarkan kita bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman—bukan sekadar slogan, tapi tindakan yang terukur dari barisan rapi latihan kepanduan hingga pengabdian di masyarakat.”
Referensi Visual:
- Foto klasik: Latihan HW tahun 1920-an dengan latar masjid.
- Infografis: Alur perkembangan HW dari masa kolonial hingga reformasi.
- Ilustrasi: Karikatur anak HW modern dengan gadget dan kompas, simbol adaptasi zaman.