Jalan Terbelah
Oleh: Sugiyati
Syeikh Ibnu Hajar dan istrinya berdiri terpaku, terpana oleh cahaya yang semakin terang dari sumur yang berada di depan mereka. Dinar emas yang berkilauan itu kini bagaikan magnet, menarik mereka ke dalam pusaran godaan yang begitu kuat. Suara itu kembali terdengar, kini lebih lembut namun tetap penuh dengan ancaman yang tersembunyi.
“Apakah kalian siap untuk mengambil langkah terakhir? Langkah yang akan menentukan takdir kalian, takdir yang tak bisa dibatalkan. Ambillah dinar ini, dan nikmatilah hidup yang penuh kemewahan. Atau, tinggalkanlah, dan rasakan kehilangan yang tak terperi.”
Istrinya menatap dinar itu dengan penuh ketamakan yang sulit disembunyikan, namun di balik tatapannya terdapat kecemasan yang mendalam. Sementara itu, Syeikh berdiri tegak, pandangannya penuh dengan ketenangan. Seolah-olah segala godaan yang ada di hadapan mereka tidak lebih dari bayang-bayang yang tidak perlu ditakuti.
“Jangan biarkan mereka mempengaruhi kita, istriku,” kata Syeikh dengan suara yang penuh kebijaksanaan. “Apa yang kita pilih hari ini akan menentukan tidak hanya masa depan kita, tetapi juga keberadaan kita di hadapan Allah. Dinar ini hanyalah permainan dunia, sementara yang sejati adalah iman kita yang akan membawa kita menuju kehidupan yang abadi.”
Namun, sang istri tidak bisa menahan desakan hatinya yang semakin menggebu. Matanya terfokus pada dinar emas yang bersinar seperti janji kebahagiaan. “Syeikh… kita bisa memiliki semuanya. Kita bisa membantu lebih banyak orang, memberikan lebih banyak kepada yang membutuhkan. Jangan biarkan kesempatan ini berlalu begitu saja.”
Syeikh menatap istrinya dengan tatapan penuh kasih dan kesedihan. Ia tahu bahwa godaan duniawi memang sangat kuat, dan istrinya sedang berjuang dengan kecemasannya sendiri. Namun, Syeikh juga tahu bahwa ini adalah ujian terbesar dalam hidup mereka.
“Iman kita akan menguatkan kita, bukan dunia ini. Dinar ini hanya akan membawa kita semakin jauh dari jalan yang benar. Kita harus memilih dengan hati yang tulus,” jawab Syeikh dengan mantap, meskipun ada sedikit keraguan di dalam dirinya.
Di saat yang sama, suara itu kembali bergema di sekitar mereka, kali ini lebih keras dan penuh tekanan. “Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari sini jika tidak memilih jalan yang benar. Ambil dinar ini, dan kalian akan bebas. Tinggalkan, dan kalian akan terperangkap dalam kegelapan.”
Istrinya menggenggam tangan Syeikh dengan erat, matanya penuh dengan air mata. “Syeikh… apa yang harus kita lakukan? Aku takut kehilangan segala sesuatu. Aku takut kehilangan kita.”
Syeikh memandang istrinya dengan lembut, merasakan betapa dalam ketakutannya. “Jangan takut, istriku. Kita tak akan kehilangan apa pun jika kita memilih dengan hati yang benar. Allah selalu bersama orang-orang yang menjaga imannya.”
Namun, saat mereka hendak melangkah pergi, sumur itu mulai mengeluarkan suara keras seperti gemuruh petir. Dinar-dinar itu bergelinding, berputar-putar di udara, memancarkan cahaya yang semakin kuat, seakan memaksa mereka untuk membuat pilihan. Suasana di sekitar mereka semakin mencekam, dan rasanya dunia ini tiba-tiba menjadi sangat sempit.
“Ambil… atau tinggalkan, tapi ingatlah. Tidak ada jalan tengah,” suara itu kembali mengancam, kali ini lebih menakutkan daripada sebelumnya.
Istrinya menatap Syeikh, air mata membasahi pipinya. “Syeikh… aku tak bisa. Aku tak bisa meninggalkan semuanya begitu saja.”
Syeikh merasakan penderitaan yang mendalam di hati istrinya. Ia tahu bahwa setiap pilihan yang mereka ambil akan membawa konsekuensi besar, tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar mereka. Dengan hati yang berat, Syeikh memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih drastis.
“Jika kita benar-benar ingin menghindari kutukan ini, kita harus melepaskan segalanya,” katanya, matanya penuh tekad. “Kita harus meninggalkan semua ini, tidak peduli seberapa besar godaannya.”
Istrinya menatap Syeikh dengan terkejut. “Meninggalkan semuanya? Bahkan dinar yang sudah kita ambil?”
Syeikh mengangguk dengan penuh keyakinan. “Ya, istriku. Kita harus melepaskan semuanya agar kita bisa kembali ke jalan yang benar.”
Dengan langkah yang mantap, Syeikh menggenggam erat tangan istrinya, menariknya menjauh dari sumur dan dinar yang berkilauan. Mereka berjalan menjauh, meskipun suara itu terus memanggil mereka, semakin keras, semakin memaksa.
Namun, sebelum mereka dapat mencapai ujung jalan, suara itu tiba-tiba berhenti. Segalanya menjadi sunyi, seolah-olah dunia berhenti berputar. Mereka berhenti, merasakan keheningan yang mendalam.
Syeikh menoleh ke arah istrinya, melihat ketakutan dan kebingungan di matanya. “Istriku… ini adalah pilihan kita. Kita harus tetap berjalan, meskipun jalan ini penuh dengan ujian.”
Tiba-tiba, di hadapan mereka, muncul sebuah jalan terbelah. Di satu sisi, jalan itu terlihat gelap dan penuh dengan kabut, sementara di sisi lain, jalan itu terang benderang, namun penuh dengan rintangan yang sulit dihadapi.
“Syeikh… ini jalan yang mana yang harus kita pilih?” tanya istrinya, suaranya gemetar.
Syeikh menatap kedua jalan itu dengan hati yang penuh kebimbangan. “Kita harus memilih jalan yang terang, meskipun penuh dengan tantangan. Jalan yang penuh cahaya adalah jalan yang akan membawa kita kepada ketenangan sejati.”
Namun, saat mereka hendak melangkah, suara itu terdengar lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut dan penuh keputusasaan. “Ingatlah… kalian tak akan pernah bisa kembali setelah memilih. Semua yang kalian pilih akan membawa akibat.”
Dengan hati yang berat, mereka memutuskan untuk melangkah menuju jalan terang, meskipun penuh dengan rintangan yang menunggu di depan mereka. Jalan itu akan menguji keteguhan hati mereka, dan mereka tahu bahwa tidak ada pilihan lain yang bisa mereka ambil.
(Bersambung ke Seri 17 – Ujian Tak Terduga)