JAKARTAMU.COM | Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaily hafidzahullah menukilkan perkataan sebagian ulama:
من جعل أيام حياته كأيام رمضان جعل الله له آخر حياته كالأعياد
“Barangsiapa yang menjadikan hari-hari hidupnya seperti hari-harinya saat bulan Ramadhan, maka Allah akan menjadikan akhir hidupnya seperti hari raya.” (Fikih Muamalah Maliyah, hal. 284)
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan ketika seorang mukmin berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan amal ibadah, menjaga lisannya, memperbanyak sedekah, dan menahan hawa nafsunya. Namun, sejatinya seorang Muslim tidak seharusnya menjadikan kebaikan itu hanya terbatas di bulan Ramadhan. Hendaknya semangat ibadah di bulan Ramadhan tetap berlanjut di bulan-bulan lainnya agar keberkahan hidup selalu menyertainya.
Istiqamah dalam Kebaikan
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fussilat: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa orang yang istiqamah dalam kebaikan akan mendapatkan ketenangan hidup, perlindungan dari Allah, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika semangat Ramadhan kita jaga sepanjang tahun, kita akan selalu berada dalam keberkahan.
Puasa Sunnah sebagai Wujud Konsistensi
Salah satu amalan utama di bulan Ramadhan adalah puasa. Setelah Ramadhan, Rasulullah ﷺ menganjurkan kita untuk tetap menjalankan puasa sunnah, seperti puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, dan puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah). Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِّنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)
Berpuasa setelah Ramadhan menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya beribadah karena momentum, tetapi karena cinta kepada Allah dan ingin mendapatkan ridha-Nya.
Menjaga Salat Malam dan Tilawah Al-Qur’an
Di bulan Ramadhan, umat Islam terbiasa menghidupkan malam dengan shalat tarawih dan qiyamul lail. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 37, Muslim no. 759)
Namun, ibadah malam tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan. Allah memuji orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat malam dalam firman-Nya:
كَانُوا۟ قَلِيلًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)
Maka, hendaknya setelah Ramadhan kita tetap melanjutkan kebiasaan shalat malam, meskipun hanya beberapa rakaat setiap malam.
Menjaga Lisan dan Akhlak
Di bulan Ramadhan, seorang Muslim dilatih untuk menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan buruk. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 1903)
Latihan menahan diri dari ghibah, dusta, dan perkataan kotor di bulan Ramadhan seharusnya menjadi kebiasaan yang terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.
Memperbanyak Sedekah
Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam berlomba-lomba dalam bersedekah. Setelah Ramadhan, semangat berbagi ini seharusnya tidak luntur. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)
Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi juga senyuman, bantuan tenaga, atau bahkan doa untuk sesama.
Jadikan hari-hari kita seperti bulan Ramadhan dengan terus menjaga semangat ibadah, memperbanyak amal saleh, menahan diri dari keburukan, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Dengan demikian, insyaAllah kita akan meraih keberkahan hidup dan mengakhiri kehidupan ini dalam keadaan husnul khatimah.
Sebagaimana kata para ulama, “Barangsiapa yang menjadikan hari-hari hidupnya seperti hari-hari Ramadhan, maka Allah akan menjadikan akhir hidupnya seperti hari raya.”