Selasa, April 1, 2025
No menu items!
spot_img

Jalan Pun Dimakan: Saat Tikus-Tikus Berpesta di Negeri yang Subur

Must Read

JAKARTAMU.COM | Di negeri yang katanya subur, dengan sawah yang membentang luas, dengan jargon kedaulatan pangan yang selalu digembar-gemborkan di setiap pidato pejabatnya, ada satu pemandangan yang lebih jujur daripada angka-angka manipulatif dalam laporan pemerintah: ratusan tikus berpesta di jalanan. Mereka bukanlah tikus yang duduk di kursi empuk gedung parlemen atau yang bersembunyi di balik proyek-proyek infrastruktur. Mereka adalah tikus sesungguhnya, yang dengan rakus melahap padi dari tangan para petani, yang menjelma menjadi simbol dari kerakusan yang lebih besar di lapisan kekuasaan.

Tikus-tikus ini bukan musuh alami yang muncul tanpa sebab. Mereka adalah konsekuensi. Mereka ada karena sistem yang dibiarkan rusak. Mereka berkembang biak di tengah kebijakan yang mandul, di antara janji-janji pembangunan yang tak lebih dari slogan kosong, di antara para pemimpin yang lebih sibuk mengurus kepentingan pribadi daripada memastikan rakyatnya makan dengan layak.

Di Balik Tikus-Tikus di Jalanan

Jika kita tarik lebih dalam, fenomena ini adalah cerminan dari apa yang terjadi di level yang lebih tinggi. Tikus yang terlihat di jalan hanyalah manifestasi dari tikus-tikus lain yang beroperasi dalam bentuk lebih canggih. Mereka yang disebut sebagai pejabat, birokrat, dan elite kekuasaan, yang selama ini merampok anggaran, memotong jalur distribusi pupuk, menguasai lahan pertanian, dan mengorbankan petani kecil demi kepentingan korporasi agribisnis. Para petani yang harusnya hidup dari tanahnya sendiri justru kehilangan segalanya karena permainan kotor para penguasa.

Para pejabat ini—sebut saja mereka Tikus-Tikus Konoha—dengan bangga berpidato tentang ketahanan pangan, tapi di saat yang sama membiarkan impor beras membanjiri pasar, mematikan harga jual petani lokal. Mereka berbicara tentang modernisasi pertanian, tetapi anggaran subsidi lebih banyak bocor ke kantong-kantong pribadi. Mereka berjanji akan mengembangkan irigasi, tetapi sawah tetap kekeringan karena dana proyeknya lenyap entah ke mana.

Tak ada yang lebih ironis daripada melihat para petani harus bekerja siang dan malam, memeras keringat demi menanam padi, hanya untuk melihat hasil jerih payah mereka lebih dulu dinikmati oleh hama—baik yang berbulu maupun yang berdasi.

Tikus-Tikus Itu Tak Pernah Kenyang

Ketika rakyat miskin dipaksa mengencangkan ikat pinggang, para pejabat negeri ini terus menggendutkan perut mereka. Ketika petani mengeluh harga pupuk yang kian mahal, para pejabat dengan santainya menandatangani kontrak impor pupuk dari luar negeri dengan harga yang dipermainkan. Ketika rakyat mengantri beras bantuan yang kualitasnya busuk, mereka yang duduk di kursi kekuasaan malah menambah koleksi aset mereka: rumah megah, kendaraan mewah, dan rekening luar negeri yang terus membengkak.

Mereka tak perlu turun ke sawah, tak perlu menanam satu butir pun, tetapi keuntungan yang mereka dapat jauh lebih besar daripada para petani yang benar-benar bekerja. Dalam ekosistem ini, mereka adalah predator sesungguhnya—menghisap darah rakyat, menguras sumber daya, dan meninggalkan bangkai kebijakan yang hanya akan membusuk dalam sejarah.

Sampai Kapan Jalanan Jadi Meja Makan?

Tikus-tikus di jalanan hanyalah pertanda kecil dari pembusukan yang lebih besar. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya padi yang akan mereka makan, tetapi seluruh kehidupan rakyat kecil. Dari jalanan yang dipenuhi tikus, dari sawah yang dirampas, dari harga pangan yang dimainkan, dari janji-janji kosong yang diucapkan, jelas bahwa kejahatan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Pertanyaannya kini, siapa yang akan memberantas mereka? Tikus-tikus kecil bisa saja dibasmi dengan racun, tetapi bagaimana dengan tikus-tikus besar yang bersembunyi di balik undang-undang? Yang bersembunyi di balik jabatan? Yang berkeliaran di gedung-gedung kekuasaan? Sampai kapan rakyat harus membiarkan mereka menggerogoti kehidupan ini?

Jika tak segera ada perubahan, maka jangan heran jika suatu hari nanti bukan hanya jalanan yang dimakan, tetapi seluruh negeri ini akan hancur oleh kerakusan mereka.

Dahnil Anzar: Idulfitri Momentum Menebar Kebermanfaatan

JAKARTAMU.COM | Wakil Kepala Badan Penyelenggara (BP) Haji Dahnil Anzar Simanjuntak bertindak sebagai imam dan khatib Salat Idulfitri di...

More Articles Like This