JAKARTAMU.COM | Islam telah hadir di Nusantara sejak berabad-abad lalu melalui jalur perdagangan, dakwah para ulama, dan asimilasi budaya. Namun, dalam perkembangannya, penyampaian ajaran Islam sering kali terhambat oleh kendala bahasa. Pada masa lalu, khotbah Jumat dan ceramah agama di banyak tempat disampaikan dalam bahasa Arab, yang tidak semua orang pahami. Hal ini menjadikan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kurang optimal.
Salah satu tokoh yang menyadari kendala ini adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Pada tahun 1906, beliau mengambil langkah berani dengan menyampaikan khotbah Jumat dalam bahasa Jawa, bahasa yang lebih akrab di telinga masyarakat. Terobosan ini menjadi titik awal bagi perubahan besar dalam metode dakwah di Nusantara.
Ahmad Dahlan dan Gagasan Pembaruan Dakwah
K.H. Ahmad Dahlan (1868–1923) merupakan ulama pembaharu yang memiliki visi besar dalam menghidupkan kembali semangat keislaman di masyarakat. Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang pendakwah, tetapi juga sebagai reformis yang mengupayakan pendidikan modern bagi umat Islam.
Saat melihat bahwa banyak jamaah tidak memahami isi khotbah yang disampaikan dalam bahasa Arab, Ahmad Dahlan mengambil pendekatan yang lebih inklusif. Dengan menyampaikan khotbah dalam bahasa daerah, ia ingin memastikan bahwa pesan Islam benar-benar sampai ke umat. Langkah ini pada awalnya mendapat tantangan dari sebagian kalangan konservatif, tetapi dalam perkembangannya, banyak ulama yang mengikuti jejaknya.
Pendekatan ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 4:
وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُوۡلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمۡ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa penyampaian dakwah harus dilakukan dengan bahasa yang dipahami oleh umat. Rasulullah ﷺ pun selalu berkomunikasi dengan bahasa yang dipahami oleh kaumnya, yaitu bahasa Arab.
Khotbah Berbahasa Lokal dalam Perspektif Islam
Islam mengajarkan pentingnya menyampaikan ilmu dengan cara yang bisa dipahami oleh audiens. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
خَاطِبُوا النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi intelektual dan bahasa kaum yang menjadi objek dakwah. Hal ini menjadi dasar pentingnya penggunaan bahasa lokal dalam khotbah dan pengajaran Islam.
Dampak Positif dari Khotbah Berbahasa Lokal
Terobosan K.H. Ahmad Dahlan dalam menyampaikan khotbah berbahasa Jawa membawa dampak luas bagi perkembangan dakwah Islam di Nusantara:
- Pemahaman Umat yang Lebih Baik
Dengan khotbah berbahasa lokal, masyarakat lebih mudah memahami ajaran Islam, sehingga ilmu yang disampaikan bisa diamalkan dengan lebih baik. - Meningkatkan Partisipasi Umat dalam Kajian Islam
Banyak masyarakat yang sebelumnya merasa enggan datang ke masjid karena tidak memahami isi khotbah menjadi lebih aktif mengikuti kajian agama. - Memperkuat Dakwah Islam di Nusantara
Langkah ini mempercepat penyebaran Islam karena pesan-pesan agama dapat tersampaikan dengan lebih efektif kepada berbagai lapisan masyarakat. - Mendukung Pendidikan Islam yang Lebih Inklusif
Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah-sekolah modern berbasis Islam yang menggunakan metode pengajaran yang lebih mudah dipahami.
Warisan Kiai Ahmad Dahlan dalam Dakwah Islam Modern
Jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam pembaruan dakwah masih terasa hingga kini. Muhammadiyah, organisasi yang ia dirikan pada tahun 1912, terus menjadi salah satu pilar penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Banyak masjid dan lembaga pendidikan Islam kini menggunakan bahasa lokal dalam penyampaian khotbah dan pengajaran, sehingga ajaran Islam semakin membumi di kalangan masyarakat.
Langkah Ahmad Dahlan ini bukan sekadar inovasi, tetapi merupakan refleksi dari nilai-nilai Islam yang menekankan kemudahan (taysir) dan pemahaman (tafahhum) dalam menyampaikan agama. Seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit dirinya dalam beragama melainkan agama akan mengalahkannya.” (HR. Bukhari)
Dengan semangat ini, upaya untuk terus menyampaikan Islam dengan metode yang relevan dan mudah dipahami harus terus dikembangkan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh K.H. Ahmad Dahlan lebih dari satu abad yang lalu.