Senin, April 7, 2025
No menu items!

Kisah Pedagang Gorengan: Berbagi di Tengah Keterbatasan, Ikhlas untuk Anak Yatim

Must Read

JAKARTAMU.COM | Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, seorang pria sederhana bernama Sudarwanto, atau yang akrab disapa Pak Agus, menjalani kesehariannya sebagai pedagang gorengan keliling. Dengan penghasilan tak lebih dari Rp40.000 per hari, ia tetap berusaha berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sejak tahun 2001, tanpa pamrih, ia menggratiskan dagangannya untuk anak-anak yatim piatu.

Awal Perjalanan Berbagi

Pak Agus mulai berjualan gorengan dan sosis keliling pada awal 2001. Di tengah perjalanannya, ia kerap melihat anak-anak yatim yang hanya bisa memandangi jajanan tanpa mampu membelinya. Pemandangan itu menyentuh hatinya. Ia kemudian berbagi kisah ini dengan kakaknya, yang memberikan sebuah pesan yang hingga kini masih dipegang teguh.

“Kakak saya bilang, kalau mau menggratiskan untuk anak yatim, jangan dijadikan sekadar hiburan. Berikan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Maka sejak itu, saya selalu menyediakan siomay goreng atau jajanan lain untuk mereka,” kenangnya.

Berbagi Tanpa Syarat

Bagi Pak Agus, berbagi tidak perlu syarat yang neko-neko. Ia tidak membatasi berapa banyak anak yatim yang bisa mendapatkan gorengannya setiap hari. Pernah dalam sehari, lebih dari 50 anak yatim menikmati gorengannya hingga ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Meski begitu, hatinya tetap lapang.

Namun, tidak semua yang datang kepadanya benar-benar yatim. Tak jarang, ada anak-anak yang berpura-pura demi mendapatkan jajanan gratis. “Banyak yang mengaku yatim, padahal tidak. Setelah dapat gorengan, mereka lari dan berteriak, ‘Woy, saya nggak yatim!'” ujarnya sambil tersenyum.

Ujian dari Keluarga dan Lingkungan

Keputusannya untuk terus berbagi sempat menuai protes dari istrinya. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dan tiga anak yang harus dinafkahi, istrinya khawatir kebiasaan ini akan semakin memperberat beban keluarga.

“Dulu istri saya sering bertanya, ‘Kalau terus menggratiskan dagangan, bagaimana kita bisa bertahan?’ Tapi saya yakin, rezeki selalu ada. Walaupun pulang tanpa membawa uang, saya tetap ikhlas,” ujarnya.

Seiring waktu, istrinya mulai memahami dan mendukung niat baiknya. Namun, tantangan tak berhenti di situ. Pak Agus juga kerap menerima cibiran dari lingkungan sekitar.

“Banyak yang bilang, ‘Kamu belum bisa membuat istrimu sejahtera, buat apa memberi orang lain?’ Tapi saya tidak berkecil hati. Bagi saya, ini adalah urusan saya dan Tuhan,” tegasnya.

Pandemi dan Tekad yang Tak Goyah

Saat pandemi Covid-19 melanda, kehidupan menjadi semakin sulit. Penghasilannya menurun drastis, dari Rp40.000 menjadi hanya Rp20.000-25.000 per hari. Pembatasan sosial membuatnya semakin sulit berjualan, bahkan beberapa kali ia harus pulang karena diusir petugas saat berjualan malam hari.

Namun, situasi sulit ini tidak membuatnya menghentikan kebiasaannya berbagi. Setiap hari, ia tetap menggratiskan dagangannya untuk sekitar 20 anak yatim yang ditemuinya.

“Saat pandemi, keadaan semakin sulit. Sekolah tutup, jalan-jalan ditutup, tapi saya tetap berusaha berbagi. Saya yakin ada rezeki sendiri nanti,” katanya dengan penuh keyakinan.

Agus dan anak-anaknya.

Kebaikan yang Berbalik

Di balik segala kesulitannya, Pak Agus juga sering mendapat kejutan tak terduga. Kadang, orang yang tak dikenalnya datang memberikan bantuan. Ia percaya bahwa berbagi bukanlah tentang seberapa banyak yang bisa diberikan, tetapi tentang ketulusan hati untuk membantu sesama.

“Saya hanya ingin bermanfaat bagi orang lain. Saya yakin, selama kita ikhlas, rezeki akan datang dengan caranya sendiri,” pungkasnya.

Dalam keterbatasannya, Pak Agus telah membuktikan bahwa kebaikan tidak mengenal batas. Di tengah kerasnya kehidupan, ia memilih untuk tetap berbagi, menjadikan hidupnya lebih bermakna bagi mereka yang membutuhkan.

PUISI: Kecupan Cinta, 12 Rakaat, dan Kebenaran

Kecupan Cinta Saat fajar merekah di ufuk timur,Angin berbisik lirih penuh syukur.Seutas senyum, sekejap mesra,Sebuah kecupan, sejuta makna. Ciuman hangat sebelum...

More Articles Like This