Kamis, April 3, 2025
No menu items!
spot_img

Meester Roem, Republik Indonesia, dan Muhammadiyah

Pada 1984, Roem mendapat Bintang Mahaputera Adipradana dari pemerintah Orde Baru, yang pernah menolaknya menjadi Ketua Umum Parmusi.

Must Read

Selama Kurun 1960-1966, Masyumi telah hilang dari peredaran politik Indonesia yang kekiri-kirian berkat PKI yang dilindungi Bung Karno. Mr Roem dan kawan-kawannya di Masyumi, seperti M.Natsir, Kasman Singodimejo, Prawoto Mangkusasmito, AR Sutan Mansyur, Buya Hamka, dan Mochtar Lubis ditahan penguasa sejak 1960-1966.

Baca juga: Sultanah Safiatuddin Membawa Zaman Keemasan Islam dan Melayu di Aceh

Ketika tahanan Masyumi dan PSI (1960-1966) dibebaskan pada pasca pembubaran PKI tanggal 12 Meret 1966, muncul gagasan merehabilitasi Masyumi. Penguasa  Orde Baru tidak berkenan namun merestui kelahiran Partai Muslimin Indonesia yang dimotori Muhammadiyah, Gasbiindo, HMI dan lain-lain. Kelahirannya di bawah koordinasi Badan Kerja Sama Umat Islam (BKUI ) yang dipimpin Djarnawi Hadikusumo dari Muhammadiyah.

Dalam artikel berjudul “Roem Itu Anak Orang Muhammadiyah” (Pelita, 15 Oktober 1980), diceritakan bagaimana penderitaan Masyumi dan tokoh-tokohnya yang berasal dari Muhammadiyah selaku anggota Istimewa Masyumi, antara lain Kasman Singodimejo dan Buya Hamka.

Artikel tersebut juga menyinggung masa kanak dan remaja Mr Roem di Pekalongan, Jawa Tengah, hingga perkenalannya dengan Buya AR Sutan Mansur, yang kelak menjadi Ketua PP Muhammadiyah (1953-1956), juga anggota Konstituante dari Masyumi.

Buya AR Mansur ini pula yang bersaksi, bahwa Roem itu anak orang Muhammadiyah. Kesaksian tersebut mengemuka ketika pemerintah Orde Baru pada 1968 menolak nama Mohamad Roem menjadi Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Alasannya, Roem bukan anggota dan atau pengurus Muhammadiyah.

Menghadapi dalih pemerintah menolak Roem, salah satu tokoh Muhammadiyah M Hasyim menyarankan, agar Roem mendaftar atau didaftar saja sebagai anggota Mihammdiyah. Sampai dua kali M Hasyim, senior Roem di PP Muhammadiyah menyarakannya. Namun Roem tidak juga bersedia karena tidak elok jika masuk Muhammadiyah hanya sekadar mencari legalitas menjadi Ketua Parmusi.

Mohamad Roem menceritakan, ketika aktif di Syarikat Islam lalu Partai Syarikat Islam pun tak ada tawaran masuk. Kebersediaan aktif di Jong Islamieten Bond bukan karena ada kekuasaan yang dicadangkan, melainkan karena ingin berkhidmad, mewakafkan kepada kekuatan politik Islam di Indonesia untuk tujuan kemerdekaannya.

Muhammadiyah, bagi Roem adalah rumah aktivitasnya dalam meninggikan Islam, juga sebagai kekuatan umat dalam perjuangan kemerdekaan dan menegakkannya. Bersama Masyumi, Roem harus menghadapi perjuangan diplomasi dan kebengisan penguasa anti demokrasi yang memenjarakannya selama 4 tahun di Jakarta dan Madiun.

Mohammad Roem meninggal dunia pada 24 September 1983. Hampir setahun kemudian, 17 Agustus 1984, dia memperoleh Bintang Mahaputera Adipradana dari peemrintah Orde Baru yang pernah menolaknya menjadi Ketua Umum Parmusi, inkarnasi dari Masyumi.

Ray Sahetapy Meninggal Dunia Selasa, Dimakamkan Jumat: Bagaimana Menurut Islam?

JAKARTAMU.COM | Dunia film dan hiburan Indonesia sedang berduka. Salah satu aktor kawakan kebanggaan Tanah Air, Ray Sahetapy baru...

More Articles Like This