JAKARTAMU.COM | Di tengah kesibukan laboratorium kedokteran molekuler Universitas Kyoto, Jepang, seorang peneliti senior bernama Dr. Haruki Yamamoto menghabiskan lebih dari satu dekade meneliti senyawa protein langka bernama metallonit, sebuah protein kompleks yang diyakini memiliki potensi besar dalam regenerasi sel dan penanganan penyakit degeneratif.
Dr. Yamamoto, yang dikenal di kalangan ilmuwan sebagai pribadi teliti dan perfeksionis, awalnya tertarik pada metallonit karena sifatnya yang unik: stabil dalam lingkungan oksidatif dan sangat aktif dalam menstimulasi mitokondria untuk memperbaiki kerusakan sel. Ia meyakini metallonit dapat menjadi kunci dalam terapi anti-aging dan pengobatan kanker stadium awal. Namun, satu masalah besar menghadangnya: metallonit sangat langka di alam.
Selama bertahun-tahun, Dr. Yamamoto dan timnya mencari-cari sumber alami metallonit. Mereka telah meneliti lebih dari 600 jenis tanaman dan buah-buahan dari berbagai penjuru dunia, dari hutan Amazon hingga pegunungan Himalaya, namun hasilnya nihil. Hingga suatu hari, sebuah pertemuan ilmiah internasional di Riyadh, Arab Saudi, mengubah segalanya.
Dalam konferensi itu, Dr. Yamamoto bertemu dengan Dr. Fahd Al-Mutairi, seorang ahli biologi molekuler asal Arab Saudi yang juga memiliki ketertarikan pada bioaktif tanaman Qur’ani. Dr. Al-Mutairi memperkenalkan sebuah pendekatan unik: mengkaji buah-buahan yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai kandidat potensial sumber biomolekul unggul. Ia menyebutkan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat satu surah pendek yang dibuka dengan sumpah demi buah tin dan zaitun: “Demi buah Tin dan Zaitun…” (QS. At-Tin: 1–2).
Menariknya, menurut Dr. Al-Mutairi, buah tin hanya disebut satu kali dalam Al-Qur’an, sedangkan zaitun disebut sebanyak enam kali di ayat-ayat berbeda. Ia menyarankan Dr. Yamamoto untuk meneliti kemungkinan hubungan sinergis antara kedua buah tersebut.
Dr. Yamamoto, awalnya skeptis, merasa tertantang. Sekembalinya ke Jepang, ia mulai menguji ekstrak buah tin (Ficus carica) dan buah zaitun (Olea europaea) secara terpisah. Hasil awal menunjukkan adanya kandungan metallonit dalam jumlah sangat kecil di dalam buah tin, namun tidak cukup signifikan untuk digunakan secara medis.
Namun saat ia mencoba mengombinasikan ekstrak satu buah tin dengan ekstrak dari enam buah zaitun, sesuatu yang menakjubkan terjadi: terjadi lonjakan produksi metallonit hingga 8,6 kali lipat dibandingkan saat buah-buahan itu diuji secara terpisah. Kombinasi ini, secara ilmiah, menstimulasi pelepasan ion logam mikronutrien tertentu yang diperlukan dalam proses sintesis metallonit.
Dr. Yamamoto tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Ini bukan hanya fenomena biokimia biasa,” ungkapnya dalam jurnal ilmiah internal universitasnya. “Rasio 1:6 ini tidak saya temukan dari data empiris awal. Tapi sudah tertulis dalam kitab suci umat Islam sejak 1400 tahun lalu. Ini mengejutkan saya secara spiritual dan intelektual.”
Penemuan ini segera dipublikasikan di jurnal Nature Biochemistry dengan judul: “Synergistic Interaction of Ficus carica and Olea europaea in the Enhancement of Metallonit Biosynthesis.” Dalam publikasi tersebut, Dr. Yamamoto menyebutkan secara eksplisit inspirasi dari interaksinya dengan Dr. Al-Mutairi dan referensi dari Al-Qur’an yang membuka arah baru dalam pencarian solusi ilmiah modern.
Penemuan ini juga membangkitkan gelombang penelitian baru yang dikenal sebagai “Qur’anic BioScience,” yaitu pendekatan ilmiah yang memanfaatkan petunjuk dari ayat-ayat Al-Qur’an untuk merancang eksperimen biomolekuler. Laboratorium Universitas Kyoto kini membuka divisi baru yang dinamai QBS Unit (Qur’anic BioScience Unit), dengan kolaborasi aktif bersama Universitas King Saud di Riyadh dan Universitas Al-Azhar di Kairo.
Dr. Yamamoto kini menjadi salah satu dari sedikit ilmuwan Jepang yang secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak lagi melihat ilmu dan iman sebagai dua entitas yang bertolak belakang. “Mungkin selama ini kita terlalu sombong dalam berpikir bahwa semua pengetahuan harus datang dari laboratorium. Tapi kadang, pengetahuan itu telah diberikan, hanya kita yang belum menyadarinya,” tuturnya dalam sebuah wawancara dengan media Jepang, Asahi Shimbun.
Kini, penelitian lanjutan tengah dilakukan untuk mengembangkan suplemen berbasis kombinasi tin dan zaitun sebagai terapi regeneratif alami. Jika berhasil, ini bisa menjadi revolusi dalam dunia medis — dan bukti ilmiah lain bahwa wahyu bukanlah mitos, tapi sumber pengetahuan agung yang menanti untuk diungkap.