Jumat, April 4, 2025
No menu items!

Prawoto Mangkusasmito: Tak Kenal Menyerah

Must Read

Selain teman seperjuangan di Partai  Masyumi, sebutlah misalnya M Natsir, Moh Roem, Kasman Singodimejo, Oesman Raliby, juga PP Muhammadiyah, Dr.Soekiman Wiryosanjoyo, AR Baswedan, KH EZ Muttaqin, hingga teman sehaluan perjuangan seperti Ayip Rosidi, Zainal Arifin (NU), Kompas dan Mercu Suar, Mochtar Lubis, IJ Kasimo dan lain-lain; semuanya merasa kehilangan, baik kawan maupun lawan menghargainya sebagai  pejuang dan pemikir politik yang cermat, berprinsip dan bermutu tinggi.

Guru AMS Muhammadiyah Jakarta

Bentangan hidup Prawoto Mangkusasmito (1910 – 1970) begitu banyak diwarnai kesulitan, namun tak sedikit pun dia menganggap sebagai penderitaan. Tertulislah, ia semasa kanak-kanak menghadapi perceraian orangtuanya (Soepardjo Mangkusasmito dan Sundah) yang masih terkait dengan Paku Alam Yogjakarta. Memasuki sekolah dan  menyelesaikan HIS (Sekolah Dasar bagi Pribumi dengan berbahasa Belanda di Temanggung), MULO (SMP di Magelang), sampai AMS di Yogjakarta, semasa masih di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Beruntungnya, Prawoto Mangkusasmito mempunyai isteri Rubingah. Ia lulusan MULO Yogyakarta kemudian menjadi pegawai negeri atau ambtenaar di Dinas Pertanian dan Kesehatan zaman Belanda. Sang istrilah yang membiayai hidup Prawoto Mangunsasmito semasa kuliah di Rechts Hoge School, 1937-1942 cikal bakal Fakultas Hukum UI. Selain support dari isterinya tercinta, dia memperoleh penghasilan sebagai guru AMS Muhammadiyah Jakarta (didirikan 1934) semasa Ir Djuanda sebagai direkturnya (1935-1942).

Pesan kepada para pemuda terutama adalah supaya pemuda berani berpendapat dan tidak takut berbuat. Sederet kader Prawoto yang lahir kemudian sebutlah AM Fatwa, Nurcholish Majid, dan Abdul Qodir Djaelani. Selain itu ada Utomo Dananjoyo, Djohan Effendy, Dawam Rahardjo, Anwar Saleh dan sebagainya.

Baca juga: Djuanda Kartawidjaja di Senja Demokrasi Coba-Coba

Meskipun antara Nurcholis Majid dan gangnya berpisah jalan dengan Abdul Qodir Djaelani dalam kaitan siasyah Islam menghadapi negara, keduanya pasti indah mengenang jasa Prawoto Mangkusasmito selaku senior, yang meminjamkan salah satu rumahnya di kawasan Kebayoran Lama. Rumah keluarganya di Jalan Kertosono, Menteng Jakarta Pusat.

Bersama Mr Moh Roem, Prawoto ikut mendirikan Yayasan Asrama Pelajar Islam di Jalan Sunan Giri Rawamangun. Itulah salah satu jejak Prawoto Mangkusasmito dalam menyiapkan kader pemimpin. Juga mendorong pendirian Yayasan Pesantren Islam yang setelah memperoleh hibah dari  wali kota Jakarta yang kala itu dijabat Syamsurizal dari Masyumi.

Bersama M Natsir, dia mendirikan Pesantren Daarul Falah di Bogor, juga lembaga pendidikan Daarul Muttaqin di Parung. Di Yogyakarta Yayasan Penyantuan Pramara yang didirikannya mendirikan Pondok Pesantren Mahasiswi Rabingah-Prawoto.

Rekan Sekampung Ali Sastroamijoyo

Prawoto Mangkusasmito yang lahir di Desa Tirto, Kecamatan Grabag, Magelang  pada 4 Januari 1910, meninggal dunia 23 Juli 1970 saat mengunjungi para petani di Desa Temuguruh, 25 kilometer dari Banyuwangi Jawa Timur. Lahir dan wafatnya tidak di kota, tetapi sama-sama di desa.

Dari Kecamatan Grabag Magelang itu ternyata sejarah mencatat kelahiran dua anak manusia yang di kemudian hari, meskipun berbeda haluan ideologi politiknya, sama-sama mencintai Tanah Air yang sama, Indonesia.

Keduanya itu yakni Mr Prawoto Mangkusasmito – Wakil Perdana Menteri RI pada Kabinet Wilopo (1952-1953) dan Mr Ali Sastroamijoyo adalah Perdana Menteri RI (1953-awal 1955). Pada periode 1950-1959, silih berganti Kabinet Parlementer yang selalu saling bergantian antara Masyumi dan PNI.

Tentara Berpolitik (bagian-3): Dwifungsi Dilahirkan Orla, Dibesarkan Orba

INDONESIA akhirnya merdeka seutuhnya. Mengalir dukungan internasional dari Uni Sovyet, Amerika Serikat, dan Australia. Indonesia sebelumnya hanya diakui enam...

More Articles Like This