Doa di Pagi Ahad
Dalam cahaya pagi yang lembut berseri,
terbit harapan di hati nurani.
Ya Allah, pemilik langit nan luas,
dengar doa hamba, leburkan gelisah.
Muliakan saudara yang membaca pinta,
lapangkan dada, jernihkan jiwa.
Sehatkan raga, kuatkan langkah,
bimbinglah dalam ridha dan berkah.
Bahagiakan rumah dengan kasih setia,
anak-anaknya tumbuh dalam taqwa.
Rezeki mengalir seluas lautan,
menghantarkan damai di setiap keadaan.
Mudahkan urusan, kabulkan harap,
hapuskan gundah, teguhkan azam.
Jauhkan fitnah, prasangka yang nista,
tuntun lidah pada tutur yang bijak.
Lindungi dari musibah dan duka,
terimalah ibadah dengan cinta.
Kelak di akhir perjalanan fana,
tempatkan di Syurga-Mu yang mulia.
Hijrah Hati
Hijrah bukan sekadar langkah berpindah,
bukan hanya jejak yang berubah arah.
Ia cahaya dalam nurani,
mengusir gelap dari sanubari.
Tinggalkan iri, hempaskan dengki,
gugurkan takabur yang mengotori.
Hijrah hati adalah janji,
menuju ridha Ilahi.
Sebagaimana Rasul tinggalkan Makkah,
demi iman yang teguh dan megah.
Hijrah bukan sekadar perjalanan,
tetapi perubahan niat dan ketulusan.
Tobatlah dari maksiat yang kelam,
agar hati jernih dan tenteram.
Perbanyak kebaikan dalam jejak,
agar hidup bermakna dan tak berjejak resah.
Hijrah hati, hijrah nurani,
menjadi insan penuh kasih suci.
Sabar tertanam, rendah hati bercahaya,
berakhlak mulia, hidup bermakna.
Ya Allah, bimbing langkah kami,
jadikan hijrah ini tak bertepi.
Curahkan rahmat, limpahkan berkah,
ampuni dosa, kuatkan istiqamah.
Bersiap Pergi
Terbayangkah saat kau tinggalkan dunia,
Langkahmu sunyi, sendiri, tanpa suara.
Tiada bunda, tiada anak, tiada sesiapa,
Hanya sepi yang mendekap jiwa.
Harta yang kau kejar, di mana kini?
Ditinggal sunyi, tak lagi berarti.
Anak dan istri, menangis sekali,
Lalu berlalu, tertinggal sendiri.
Kau terbujur di pembaringan kaku,
Tanah memelukmu dalam gelap nan beku.
Amal setiamu, teman yang jujur,
Menemani di alam yang tak berpendur.
Sidang Mahkamah, tak bisa berdalih,
Ilmu dan umur, di mana kau pilih?
Lidah membisu, saksi berbicara,
Tangan dan kaki bersuara nyata.
Maka bersiaplah sebelum tiba,
Jangan menunda, jangan terlena.
Sebab ajal datang tanpa menyapa,
Hanya amal yang setia menjaga.
Dunia Adalah Negeri Amal, Bukan Negeri yang Kekal
Dunia hanyalah titian fana,
Langkah menapak, ujian menyapa.
Tak henti derita, tak henti nestapa,
Agar sabar bersemi, agar iman terjaga.
Maut dan hidup tercipta berpasangan,
Bagai gelombang di lautan ujian.
Siapa bertahan, siapa beriman,
Kan diuji di jalan keabadian.
Jangan kau kira surga terbuka,
Tanpa luka, tanpa duka.
Setiap jiwa harus bersetia,
Pada sabar, pada takdir yang nyata.
Menahan hati dari gelisah,
Menahan lisan dari keluh resah.
Menahan raga dari maksiat,
Dalam sabar, terbit rahmat.
Sungguh, tiada iman tanpa keteguhan,
Sebagaimana jasad butuh kepala.
Pahala sabar tiada berbilang,
Allah beserta mereka yang setia.
Kala duka mengungkung rasa,
Ingatlah janji-Nya yang mulia.
Salawat dan rahmat bagi yang teguh,
Mereka yang setia di jalan lurus.
Maka bersabarlah, wahai hati,
Dunia hanya negeri perhentian.
Bekal amal penentu abadi,
Surga menanti di ujung perjalanan.