Kamis, April 3, 2025
No menu items!
spot_img

PUISI: Doa, Jejak Kehidupan, Alim Sejati, dan Akal

Must Read

Doa di Pagi Kamis

Di fajar yang merekah lembut berseri,
terucap syukur dalam sanubari.
Semoga umur berkah tersisa,
dihiasi rahmat tiada terkira.

Kesehatan mengalir bak sungai jernih,
nikmat terhampar tanpa pedih.
Taufik dan hidayah menyala terang,
bimbingan Ilahi menuntun langkah lapang.

Bagi yang sakit, semoga sembuh,
hilang derita, hilang keluh.
Doa melangit, harap tertuju,
dikabulkan Tuhan, diijabah selalu.

Selamat pagi, Kamis nan cerah,
semangat mengalir bagai cahaya fajar.
Sejahtera, bahagia, kuat dan teguh,
melangkah pasti tanpa keluh.

Tiga Jejak Kehidupan

Tiga hal takkan pernah kembali,
waktu yang terbang, ucapan pedih,
kesempatan hilang, tak bisa dibeli,
jagalah baik, sebelum tersisih.

Tiga hal bisa menghancurkan jiwa,
amarah membara, angkuh meraja,
dendam menghitamkan hati yang lara,
hindari segera sebelum merana.

Tiga hal jangan pernah pudar,
harapan yang hidup, ikhlas bersinar,
kejujuran tegak, teguh tak gentar,
peliharalah, jangan terkapar.

Tiga hal paling berharga di bumi,
kasih yang hangat, cinta abadi,
kebaikan tumbuh di hati berseri,
pupuklah, agar tak mati.

Tiga hal tak selalu pasti,
harta berputar, kejayaan pergi,
mimpi melayang, kadang menyepi,
jangan terobsesi mengejar ilusi.

Tiga hal membentuk pribadi,
komitmen teguh, tulus di hati,
kerja keras tak henti-henti,
upayakan, agar berarti.

Tiga hal mengantar sukses,
tekad membaja, kemauan tegas,
fokus menyala, tak mudah lepas,
usahakan, jangan menebas.

Tiga hal tetap misteri,
rezeki, umur, dan jodoh menanti,
mintalah pada Tuhan dengan rendah hati,
agar hidup tak kehilangan arti.

Namun ada tiga yang pasti menunggu,
tua merayap, sakit memburu,
kematian datang tak bisa menunggu,
bersiaplah, sebelum waktu berlalu.

Alim Sejati

Ia yang berilmu takkan hanyut,
bagaikan karang di hempas laut.
Jika mudah larut dalam keliru,
adakah ilmunya berakar syahdu?

Alim bukan sekadar tahu,
tetapi bijak dalam tiap laku.
Jika hikmah tak jadi suluh,
maka ilmu hanyalah debu rapuh.

Lihatlah Abu Bakar nan teguh,
Umar pun tak goyah meski gaduh.
Imam Syafi’i tegap berdiri,
Ghazali pun kokoh tak tersisih.

Ilmu sejati menuntun jalan,
bukan sekadar lafaz di lisan.
Jika mudah terseret arus nista,
maka ia belajar tanpa makna.

Namun jika ia tersadar kembali,
itu tanda jiwa yang mendaki.
Belajar, mendewasa, meneguhkan hati,
agar tak tergelincir dalam ilusi.

Jadilah alim yang sejati,
bukan sekadar tahu, tapi mengerti.
Bukan sekadar hafal, tapi merenungi,
bukan sekadar mengucap, tapi menghidupi.

Akal: Tali dan Pelita

Akal adalah ‘iqal—tali yang mengikat,
Menghentikan angin kesombongan yang liar terbang,
Seperti kain surban di padang pasir,
Dipeluk erat, tak lepas tertiup badai zaman.

Mata terpejam saat malam merangkul,
Listrik padam, gulita pun menyergap.
Demikian akal—pelita yang terbatas,
Tanpa wahyu, ia hanya nyala redup.

Ruh? Ah, siapa mampu menjangkaunya?
“Milik Rabb-ku,” kata Sang Pencipta.
Ilmu kita hanyalah setitik embun,
Di samudra hikmah yang tak bertepi.

Kau bukan dewa yang antropomorfis,
Bukan pula noktah yang antroposentris.
Kau makhluk teomorfis—agung namun rapuh,
Butuh Sang Khalik sebagai kompas abadi.

Jangan angkuh seperti Iblis yang durhaka,
Jangan pula ragu seperti Yahudi yang bimbang.
Berjalanlah di antara khauf dan raja’,
Seimbang seperti sayap burung mengudara.

Bacalah Qur’an dengan akal yang tunduk,
Bukan logika yang membentang takdir.
Sebab taklif hanya untuk yang berfikir,
Bukan untuk si gila yang kehilangan nalar.

Ya Allah, ikat kami dengan tali hidayah-Mu,
Agar akal tak menjelma bumerang.
Jadikan ia pelita di jalan istiqamah,
Bukan obor yang membakar diri sendiri.

Dr. Khoirul Anwar: Ilmuwan Asal Kediri di Balik Teknologi 4G LTE yang Mendunia

JAKARTAMU.COM | Tak banyak yang tahu bahwa teknologi jaringan 4G LTE yang kini digunakan miliaran pengguna di seluruh dunia...

More Articles Like This