Doa di Hari Jumat
Di hari Jumat yang penuh cahaya,
kupanjatkan doa dengan rasa setia.
Ampunilah dosa yang membelenggu,
kami, keluarga, dan sahabat yang satu.
Karuniakan umur yang bermanfaat,
sehat wal afiat, jauh dari mudarat.
Tunjukkan jalan yang lurus nan suci,
jalan ridha-Mu, cahaya abadi.
Jadikan syukur selalu di hati,
atas nikmat-Mu yang tak terhenti.
Berikanlah kebaikan dunia akhirat,
hindarkan azab yang mencekam erat.
Jauhkanlah kami dari fitnah dunia,
fitnah kubur, dajjal, dan nestapa.
Akhirilah hidup dalam husnul khotimah,
sujud terakhir penuh berkah.
Cukupkan bekal di akhir nanti,
saat Kau panggil dengan kasih suci.
Atas ridha-Mu, izinkanlah kami,
berjumpa dengan-Mu dan Nabi.
Ya Allah, Ya Rabb, Sang Maha Cahaya,
terimalah doa hamba yang hina.
Maaf Bukan Hanya di Hari Raya
Maaf bukan sekadar tradisi,
bukan menanti lebaran tiba,
maaf sejatinya nurani,
setiap saat, setiap masa.
Salah terucap, khilaf terjadi,
jangan menunggu waktu berganti.
Segeralah luruh ego di hati,
memaafkan dan dimaafi.
Memang berat bagi sebagian,
karena luka tak selalu hilang.
Namun maaf adalah keikhlasan,
yang mengalir, yang menenangkan.
Maafkanlah sebelum diminta,
sucikan hati dari luka.
Karena Allah Maha Pemurah,
mengampuni hamba yang berserah.
Sang Nabi pun telah bersabda,
yang lembut hatinya, ia mulia.
Memaafkan meski bisa membalas,
itulah jiwa yang paling ikhlas.
Semoga kita dalam lindungan,
rahmat-Nya terus berpanjangan.
Umur berkah, rezeki halal,
hidup lapang, hati tak gundah.
Bayang Kafan yang Tersembunyi
Mungkin saat tawa mengembang di bibir,
kain kafan telah rapat ditenun taksir.
Mungkin saat muda berlari mengejar,
ajal berbisik di ambang sadar.
Mungkin saat dunia kita genggam erat,
takdir datang, tak ada syarat.
Mungkin saat maksiat jadi pelipur,
itulah akhir tanpa tersingkap tabir.
Ingatlah mati, wahai diri,
sebelum sesal menjemput sunyi.
Ia cahaya bagi yang peduli,
menuntun langkah menuju Ilahi.
Sadarilah, maut tak menunggu,
tak kenal waktu, tak pilih umurmu.
Ia datang tanpa permisi,
merenggut semua, tanpa kompromi.
Siapkan bekal sebelum gelap,
sebelum nafas terhenti mendadak.
Taubat segera, jangan menunda,
karena waktu tak bisa diputar semula.
Ingat mati, qanaah di hati,
sibuk beramal, bukan berfoya-foya.
Lunasi hutang, luruskan laku,
bersihkan diri dari noda dan debu.
Zuhud pada dunia yang fana,
jangan terikat pada semu dan hampa.
Karena yang kekal hanyalah satu,
berjumpa dengan-Nya di akhir waktu.
Maka semoga husnul khotimah,
menjadi akhir yang penuh rahmat.
Saat sujud, saat doa terhimpun,
bertemu Allah dengan hati terhanyut.
Kebenaran Tak Terkalahkan
Di atas bumi yang fana ini,
Kebenaran tegak berdiri,
Meski dihujani fitnah dan dusta,
Ia tak runtuh, tak binasa.
Seperti mentari yang tetap bersinar,
Meski awan gelap menghalang pandang,
Seperti ombak yang terus berdebur,
Meski karang menghadang jalang.
Orang yang mencari kebenaran,
Tak gentar meragukan dirinya,
Ia menakar sebelum bicara,
Menyaring fakta, menolak dusta.
Namun yang sibuk mencari pembenaran,
Hanya ingin menang, tak ingin benar,
Membungkus dusta dengan retorika,
Menjajakan semu dalam logika.
Hati yang damai dalam kebenaran,
Tak terguncang angin kepalsuan,
Namun hati yang haus pembenaran,
Gelap gulita dalam kebimbangan.
Wahai jiwa yang merindu cahaya,
Berjalanlah di atas kejujuran,
Karena kebatilan pasti sirna,
Dan kebenaran tak terkalahkan.