Doa di Pagi Rabu
Ya Rabb, di pagi yang suci,
kusemat doa di langit tinggi.
Ampunilah dosa yang menumpuk di hati,
bagi kami, orang tua, dan sahabat sejati.
Karuniakan umur yang penuh berkah,
sehat dan selamat dalam tiap langkah.
Tunjukkan jalan yang lurus bersinar,
menuju ridho-Mu, cahaya yang benar.
Jadikan syukur tak lekang di dada,
nikmat-Mu melimpah tiada terkira.
Beri kami dunia yang penuh cahaya,
akhirat bahagia, tiada derita.
Jauhkan neraka, gelap membara,
lindungi kami dengan kasih-Mu, Ya Rabbana.
Di pagi Rabu, kami memohon,
rahmat-Mu tetap kekal, tak pernah usang.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Mudik Jiwa (Sebuah Puisi tentang Hakikat Idulfitri)
Bukan debur roda yang pulang,
tapi rindu jiwa yang merindu
dari belenggu nafsu yang gadang,
kembali pada fitrah yang suci.
Di sini, tangan terentang maaf,
seperti sungai yang mengalir tenang
membasuh luka, menghapus cela,
merajut benang yang sempat terputus.
Kau dan aku, sama-sama peziarah,
wisudawan bulan yang penuh berkah
menggendong taqwa sebagai bekal,
merawatnya di jalan yang berdebu.
Dermakanlah senyum, bagikanlah salam,
seperti mentari yang tak piluh memberi
karena maaf adalah puncak ibadah,
jalan terdekat menuju ridha-Nya.
Semoga kita tak sekadar merayakan,
tapi abadi dalam kesalehan
istiqamah bagai bintang tetap,
menyinari gelapnya dunia fana.
Di Sepertiga Malam
Kala malam berbisik lirih,
hati yang terjaga pun bersih.
Berdiri, duduk, atau bersimpuh,
doa mengalun tanpa keluh.
Rasul mulia tunjukkan jalan,
sholat malam dalam keimanan.
Kadang tegak, kadang bersila,
tetap khusyuk, tetap setia.
Jika letih merayap raga,
duduklah dalam doa mesra.
Jika lemah menekan dada,
baringlah, tetap dalam cinta.
Mereka yang sedikit tidur,
di dunia tak ingin hanyut terulur.
Dalam sujud, dalam rukuk,
jiwa berpendar cahaya redup.
Apakah hatimu tak tergerak,
menjadi cahaya di gulita pekat?
Seperti mereka, di waktu sepi,
menemui Tuhan tanpa henti.
Sepertiga malam adalah saksi,
siapa yang mengingat tanpa henti.
Berdiri, duduk, atau terbaring,
Allah dekat, tak pernah berpaling.
.