Doa di Pagi Sabtu
Oleh; Dwi Taufan Hidayat
Ya Rabb, di pagi yang penuh cahaya,
kumohon ampun bagi yang bersua,
dosa kami, orang tua tercinta,
juga sahabat dalam satu rasa.
Berikan umur penuh makna,
sehat, selamat dalam penjaga,
langkah tertuntun di jalan lurus,
ridho-Mu tempat kami luruh.
Ajari hati tuk selalu syukur,
pada nikmat tak terhitung luruh,
limpahkan dunia dengan kebaikan,
akhirat pun tempat kedamaian.
Jauhkan kami dari siksa-Mu,
api neraka yang mencekam pilu,
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim,
rahmati kami hingga akhir nafas hening.
NAFAS YANG TAKKAN KEMBALI
Waktu berhembus bagai angin senja,
Takkan kembali meski kau meminta.
Setiap detiknya melangkah pasti,
Menggiring kita ke liang sunyi.
Nafas yang terhela, detik yang terbuang,
Takdir pun tertulis di garis yang panjang.
Muda kan pudar, sehat kan sirna,
Saat ajal datang, tiada guna sesal dan lara.
Allah bersumpah demi sang masa,
Manusia rugi bila alpa.
Kecuali mereka yang teguh beriman,
Mengerjakan kebajikan tanpa beban.
Jangan terlena dalam kelalaian,
Karena usia hanyalah titipan.
Gunakan luang sebelum sempit,
Gunakan sehat sebelum sakit.
Kekayaan pun tak selamanya bertahan,
Hanya amal yang jadi pegangan.
Hidup ini sementara, fana dan sirna,
Jangan menunda sebelum terlambat sudah.
Karena waktu, wahai jiwa,
Adalah nafas yang takkan pernah kembali.
JEDA TAKDIR
Di balik doa yang melangit tinggi,
Ada jeda yang Allah beri.
Bukan tanda Dia tak peduli,
Namun kasih-Nya yang sejati.
Tak semua yang kau ingin nyata,
Tak semua harap lekas tiba.
Sebab Tuhan lebih mengerti,
Apa yang baik untukmu nanti.
Mungkin kau pinta cahaya terang,
Tapi redup lebih menenangkan.
Mungkin kau damba jalan lapang,
Namun liku lebih meneguhkan.
Ikhlas bukan sekadar kata,
Tapi sabar dalam percaya.
Bahwa yang datang dan yang pergi,
Semua telah tertulis rapi.
Maka tenanglah dalam harapan,
Tetaplah kokoh dalam iman.
Karena takdir yang paling indah,
Datang di saat yang paling berkah.