JAKARTAMU.COM | Putri Atmawan Pujaningsih (18), seorang anak petani dari Desa Tambaksari, Poto Tano, Sumbawa Barat, berhasil meraih impiannya untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) secara gratis. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya dalam belajar, ia lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan memperoleh beasiswa UKT 0 dari UGM.
Sejak duduk di bangku SMP, Putri telah menetapkan impian untuk berkuliah di UGM, kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun, ia menyadari kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas. Ayahnya, Kiswanto (53), dan ibunya, Hadiatullah (50), bekerja sebagai petani jagung di lahan hak guna usaha (HGU) milik perusahaan, dengan penghasilan yang tidak menentu.
Meskipun begitu, Putri tidak menyerah. Ia selalu menjadi juara kelas dan aktif di berbagai organisasi sekolah, seperti OSIS, Pramuka, serta Pasukan Baris Berbaris. Selepas sekolah, ia tetap belajar meski harus menjaga kambing yang dilepas di sekitar desa. Putri sering membawa buku atau belajar melalui internet di ponselnya saat menggembala.
Ketika tiba saatnya mendaftar kuliah, Putri sempat ragu apakah bisa mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Namun, dengan dorongan orang tua dan keyakinannya, ia tetap mendaftar melalui jalur SNBP. Ia rajin berdoa agar dapat diterima dan akhirnya mendapatkan kabar bahagia saat pengumuman diterima di UGM. Ia menangis haru di kamarnya, hingga ibunya datang bertanya. Saat memberi tahu ayahnya, ia langsung memeluknya di teras rumah sebagai ungkapan syukur.
Putri diterima di Program Studi Hygiene Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi UGM, dengan beasiswa UKT 0 yang sepenuhnya menanggung biaya pendidikannya. Hal ini sangat membantu keluarganya yang selama ini hidup dengan hasil panen jagung yang tidak selalu stabil. Dalam satu kali panen, mereka bisa mendapatkan sekitar 5-6 ton per hektare, dengan penghasilan sekitar Rp10-12 juta. Namun, penghasilan ini harus dibagi untuk membayar buruh, hutang bibit, serta pupuk.
Selain bertani, keluarga Putri juga menggembala kambing milik tetangga untuk menambah pemasukan. Dari dua ekor kambing yang dipelihara, kini sudah berkembang menjadi puluhan ekor yang dibagi hasil dengan pemiliknya. Jika ada kebutuhan mendesak, mereka bisa menjual beberapa ekor dengan izin dari pemilik.
Kiswanto sendiri juga bekerja sebagai pegawai tidak tetap di Dinas Pertanian Sumbawa Barat dengan honor yang naik bertahap dari Rp400 ribu pada 2008 menjadi sekitar Rp1 juta beberapa tahun kemudian. Meskipun penghasilan mereka terbatas, Kiswanto dan Hadia selalu memotivasi ketiga anaknya untuk terus menempuh pendidikan tinggi.
Kini, Putri bertekad untuk menyelesaikan studinya dengan baik. Ia berharap setelah lulus bisa bekerja di rumah sakit dan mengabdi di daerah asalnya, membantu masyarakat dengan ilmu yang didapatkan di bangku kuliah.