Oleh: Sugiyati, S.Pd
Di tengah geliat dakwah Muhammadiyah yang semakin berkembang, angin perlawanan bertiup kencang dari berbagai arah. Di satu sisi, pemerintah Hindia-Belanda terus mengawasi gerakan ini dengan penuh curiga. Di sisi lain, para ulama konservatif di Yogyakarta menentang keras gagasan-gagasan yang dibawa KH. Ahmad Dahlan.
Bagaimanapun juga, Muhammadiyah bukan hanya sekadar organisasi keagamaan. Di mata Belanda, gerakan ini berpotensi membangkitkan kesadaran umat Islam terhadap pentingnya pendidikan dan kemandirian. Sedangkan bagi kaum konservatif, Ahmad Dahlan dianggap membawa pembaruan yang bertentangan dengan tradisi Islam yang mereka anut.
Tuduhan Bid’ah dan Penghancuran Langgar
Di berbagai pertemuan, Ahmad Dahlan terus menyuarakan bahwa Islam harus dipahami berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar warisan turun-temurun yang tak teruji kebenarannya. Hal ini menimbulkan keresahan di kalangan ulama tradisional.
Suatu hari, ketika Ahmad Dahlan mengajarkan pemahaman baru tentang shalat, ia ditentang habis-habisan oleh beberapa tokoh agama di Kauman. Mereka menuduhnya melakukan bid’ah.
“Kyai Dahlan ini hendak mengubah Islam! Apakah ajaran nenek moyang kita tidak cukup?” teriak seorang ulama dalam sebuah pertemuan.
Tak hanya cemoohan, perlawanan terhadap Ahmad Dahlan pun semakin ekstrem. Sebuah langgar (mushala) yang digunakan oleh murid-muridnya untuk mengaji dihancurkan oleh sekelompok orang. Mereka menganggap ajaran yang disampaikan di tempat itu sesat.
Namun, Ahmad Dahlan tetap tenang. Ia tidak marah atau membalas perlakuan itu dengan kekerasan. Sebaliknya, ia mengajak murid-muridnya untuk tetap bersabar.
“Bersabarlah. Kita akan membangun kembali langgar itu. Bahkan jika dihancurkan lagi, kita akan terus membangunnya,” ujarnya dengan lembut.
Dan benar, langgar itu dibangun kembali, lebih kokoh dari sebelumnya. Ini menjadi simbol keteguhan Muhammadiyah dalam menghadapi rintangan.
Muhammadiyah dan Politik Kolonial
Sementara itu, pemerintah Hindia-Belanda mulai memperhatikan perkembangan Muhammadiyah dengan penuh kewaspadaan. Mereka khawatir gerakan ini akan menjadi wadah perlawanan terhadap kolonialisme.
Salah satu strategi Belanda adalah mencoba menghambat pertumbuhan Muhammadiyah melalui peraturan administratif. Ketika Muhammadiyah mulai menyebar ke luar Yogyakarta, pemerintah kolonial membatasi izin pendirian cabang di berbagai daerah.
Pada tahun 1918, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia-Belanda agar Muhammadiyah diperbolehkan berkembang ke luar Yogyakarta. Namun, permohonan ini ditolak dengan alasan organisasi ini terlalu fokus pada Islam dan bisa membahayakan stabilitas kolonial.
Ahmad Dahlan tidak menyerah. Ia mencari cara lain. Salah satunya adalah dengan mendekati tokoh-tokoh pergerakan nasional. Ia mulai berkomunikasi dengan pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang saat itu memiliki pengaruh besar dalam dunia politik.
Di balik layar, Belanda mulai melancarkan strategi adu domba. Mereka menyebarkan propaganda bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang berbahaya. Para pegawai pribumi yang menjadi anggota Muhammadiyah diawasi ketat, bahkan ada yang dipecat dari pekerjaannya.
Namun, semua ini tidak menggoyahkan Ahmad Dahlan. Ia tetap berkeliling ke berbagai daerah, berdakwah, dan mengajak masyarakat untuk meninggalkan kejumudan.
Peran Siti Walidah dan Aisyiyah
Dalam perjuangannya, Ahmad Dahlan tidak sendiri. Istrinya, Siti Walidah, memainkan peran besar dalam membangun Muhammadiyah, terutama dalam memberdayakan kaum perempuan.
Pada masa itu, perempuan masih banyak yang dilarang mengenyam pendidikan tinggi, apalagi terlibat dalam kegiatan sosial dan dakwah. Namun, Siti Walidah memiliki pandangan berbeda. Ia percaya bahwa perempuan juga harus berpendidikan dan berperan dalam kemajuan umat.
Maka, pada tahun 1917, ia mendirikan Aisyiyah, organisasi perempuan di bawah Muhammadiyah yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan peran sosial kaum perempuan.
Tidak sedikit yang menentang gagasan ini. Beberapa ulama konservatif bahkan menuduh Siti Walidah sebagai perempuan yang melawan kodratnya. Namun, seperti suaminya, ia tidak gentar.
“Perempuan bukan hanya pelengkap dalam rumah tangga. Islam mengajarkan bahwa perempuan juga memiliki hak untuk belajar dan berjuang,” ujar Siti Walidah dalam salah satu pengajiannya.
Dengan dukungan dari para santriwati dan perempuan-perempuan yang haus akan ilmu, Aisyiyah mulai berkembang. Mereka mendirikan sekolah, mengadakan pengajian, dan terlibat dalam kegiatan sosial.
Aisyiyah menjadi pelopor gerakan perempuan Islam modern di Indonesia. Dari sinilah, peran perempuan dalam Muhammadiyah semakin kuat, dan hal ini turut mempercepat pertumbuhan organisasi ini di berbagai daerah.
Ancaman dan Tantangan Baru
Muhammadiyah terus berkembang, tetapi ancaman dari berbagai pihak tidak mereda. Pada tahun 1921, seorang pejabat Belanda memberikan peringatan keras kepada Ahmad Dahlan.
“Kyai, berhati-hatilah dengan langkahmu. Jika Muhammadiyah terus berkembang, pemerintah tidak akan tinggal diam.”
Namun, Ahmad Dahlan menjawab dengan tenang, “Kami hanya ingin menyiarkan Islam yang benar dan mendidik umat. Jika itu dianggap berbahaya, maka biarlah Allah yang menjadi saksi perjuangan kami.”
Di sisi lain, kelompok konservatif juga semakin agresif dalam menyerang Muhammadiyah. Mereka mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Ahmad Dahlan menyimpang, dan beberapa anggota Muhammadiyah di daerah mengalami intimidasi.
Namun, semua itu tidak membuat Ahmad Dahlan gentar. Ia terus mengajarkan bahwa Islam harus menjadi agama yang membawa perubahan, bukan hanya sekadar warisan turun-temurun tanpa makna.
Pada tahun 1922, Muhammadiyah telah memiliki puluhan cabang di berbagai daerah, meskipun masih dalam bayang-bayang tekanan pemerintah kolonial. Gerakan ini telah berkembang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
Namun, di tengah perjuangan ini, Ahmad Dahlan mulai merasakan kelelahan fisik. Kesehatannya memburuk, tetapi semangatnya tidak pernah pudar. Ia tahu bahwa perjuangan harus terus dilanjutkan, meskipun mungkin bukan olehnya lagi.
Bagaimana Ahmad Dahlan menghadapi masa-masa terakhirnya? Siapa yang akan melanjutkan perjuangannya setelah ia tiada?
(Bersambung ke Episode 3: Warisan Perjuangan Ahmad Dahlan).