Oleh: Sugiyati, S.Pd
KH. Ahmad Dahlan semakin sering mengalami kelelahan. Tubuhnya melemah, tetapi tekadnya tetap membaja. Sejak mendirikan Muhammadiyah pada 1912, ia telah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan Islam yang berkemajuan. Namun, pada tahun 1923, di tengah perjuangan yang semakin meluas, kesehatannya kian menurun.
Para muridnya menyadari kondisi itu. Beberapa kali, Ahmad Dahlan tampak kesulitan untuk berdiri tegak saat mengajar. Namun, dengan senyuman khasnya, ia selalu berkata, “Selama nyawa masih di badan, dakwah harus tetap berjalan.”
Hari itu, di serambi rumahnya di Kauman, Yogyakarta, beberapa murid setia berkumpul. Siti Walidah, sang istri, duduk di sampingnya, dengan raut wajah penuh kecemasan.
“Kyai, mungkin engkau perlu lebih banyak beristirahat,” ujar seorang muridnya, Kyai Sujak, dengan suara pelan.
Ahmad Dahlan hanya tersenyum. “Istirahat? Tidak ada istirahat dalam dakwah, Sujak. Islam ini harus kita teruskan. Jika aku tiada, kalian harus tetap berdiri.”
Kebangkitan Muhammadiyah dan Amanah Terakhir
Meskipun kesehatan Ahmad Dahlan memburuk, Muhammadiyah terus berkembang pesat. Cabang-cabang mulai bermunculan di berbagai kota, dari Surakarta, Pekalongan, Semarang, hingga Surabaya. Di Sumatera, para pedagang muslim yang sering berinteraksi dengan murid-muridnya mulai membawa gagasan Muhammadiyah ke wilayah mereka.
Pada tahun 1922, Muhammadiyah sudah memiliki sekolah-sekolah, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial yang berfungsi untuk membangun kesejahteraan umat. Ahmad Dahlan tahu bahwa perjuangannya tidak akan sia-sia, tetapi ia masih menyimpan kekhawatiran: Siapa yang akan melanjutkan Muhammadiyah setelah dirinya?
Suatu malam, dalam kondisi tubuh yang semakin lemah, ia memanggil beberapa tokoh Muhammadiyah ke rumahnya. Di antara mereka ada Kyai Haji Ibrahim, Kyai Hisyam, dan Ki Bagus Hadikusuma.
“Aku ingin kalian semua ingat,” kata Ahmad Dahlan dengan suara lirih namun tegas. “Muhammadiyah bukan milik Ahmad Dahlan. Muhammadiyah adalah gerakan umat. Siapapun yang memimpinnya kelak, pastikan bahwa Muhammadiyah tetap berjalan di atas prinsip yang kita bangun bersama.”
Para tokoh itu mengangguk penuh hormat. Mereka tahu, Ahmad Dahlan sedang meninggalkan pesan terakhirnya.
Saat Wafatnya Sang Pendiri
Pada tanggal 23 Februari 1923, Ahmad Dahlan mengembuskan napas terakhirnya. Yogyakarta berduka. Kauman, tempat kelahirannya, dipenuhi oleh ribuan orang yang datang melayat.
Di antara para pelayat, seorang lelaki tua berbisik, “Kini Ahmad Dahlan telah pergi, tetapi Muhammadiyah tak boleh mati.”
Pemakamannya menjadi saksi bahwa perjuangannya tidak akan berhenti. Para murid dan anggota Muhammadiyah bersumpah untuk meneruskan cita-citanya, membangun umat Islam yang maju dan tercerahkan.
Kepemimpinan Berlanjut: Kyai Haji Ibrahim
Setelah kepergian Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru. Mampukah organisasi ini bertahan tanpa sosok pendirinya?
Jawabannya datang dari Kyai Haji Ibrahim, salah satu murid utama Ahmad Dahlan. Pada tahun 1923, ia terpilih sebagai Ketua Muhammadiyah yang kedua.
Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah semakin memperluas jangkauannya. Cabang-cabang Muhammadiyah mulai berdiri di berbagai kota besar di Jawa dan Sumatera.
Namun, tantangan tetap ada. Pemerintah Hindia-Belanda semakin waspada terhadap Muhammadiyah. Mereka mengawasi setiap pergerakan organisasi ini, khawatir bahwa Muhammadiyah bisa menjadi bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme.
Di sisi lain, kelompok konservatif juga belum berhenti menyerang. Mereka menuduh Muhammadiyah sebagai organisasi yang terlalu berorientasi pada Barat karena mengadopsi sistem pendidikan modern.
Namun, Kyai Haji Ibrahim tetap teguh pada prinsipnya. Ia percaya bahwa Islam harus berkembang sesuai zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Muhammadiyah dan Perlawanan terhadap Kolonialisme
Pada akhir tahun 1920-an, Muhammadiyah mulai bertransformasi dari gerakan pendidikan dan sosial menjadi bagian dari perlawanan intelektual terhadap kolonialisme.
Dalam berbagai ceramah, para pemimpin Muhammadiyah menyuarakan pentingnya kemerdekaan bangsa. Mereka menekankan bahwa umat Islam tidak boleh terus-menerus menjadi rakyat yang dijajah.
Pemerintah Belanda menyadari potensi Muhammadiyah dalam membangkitkan kesadaran nasionalisme. Akibatnya, pengawasan terhadap organisasi ini semakin diperketat.
Beberapa sekolah Muhammadiyah dibatasi kegiatannya. Beberapa pengurus cabang bahkan dipanggil oleh pemerintah kolonial untuk dimintai pertanggungjawaban atas aktivitas mereka.
Namun, Muhammadiyah tetap bertahan. Dengan semangat Ahmad Dahlan yang masih membara di hati para pengikutnya, organisasi ini terus berkembang, mencetak generasi baru yang siap berjuang untuk agama dan bangsa.
Gerakan Aisyiyah Semakin Kuat
Di sisi lain, organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, yang didirikan oleh Siti Walidah, semakin memperkuat eksistensinya.
Perempuan-perempuan Muhammadiyah mulai mengajar di sekolah, menjadi tenaga kesehatan di rumah sakit, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Pada masa itu, peran perempuan dalam masyarakat masih sangat terbatas. Namun, Aisyiyah membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam dakwah dan perjuangan Islam.
Siti Walidah sering mengatakan kepada murid-muridnya, “Jangan takut menjadi perempuan yang berilmu. Islam tidak pernah melarang kita untuk maju.”
Pesan itu semakin menggema, dan perlahan-lahan, kaum perempuan mulai mendapatkan tempat dalam masyarakat.
Muhammadiyah Memasuki Babak Baru
Setelah kepemimpinan Kyai Haji Ibrahim berakhir pada tahun 1931, tampuk kepemimpinan Muhammadiyah berpindah ke Kyai Haji Hisyam, lalu dilanjutkan oleh Kyai Haji Mas Mansyur pada tahun 1936.
Di bawah kepemimpinan Mas Mansyur, Muhammadiyah mulai lebih aktif dalam pergerakan nasional. Ia menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Agus Salim.
Muhammadiyah kini tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Namun, tantangan yang lebih besar sedang menanti. Pada tahun 1942, Jepang menginvasi Indonesia. Bagaimana Muhammadiyah menghadapi masa pendudukan Jepang?
(Bersambung ke Episode 4: Muhammadiyah di Masa Pendudukan Jepang).