Sabtu, April 5, 2025
No menu items!

Sejarah Muhammadiyah (5): Muhammadiyah dalam Revolusi Kemerdekaan

Must Read

Oleh: Sugiyati, S.Pd

Muhammadiyah di Awal Kemerdekaan

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 menjadi titik balik dalam sejarah bangsa. Namun, kemerdekaan yang diproklamasikan bukan berarti keadaan menjadi lebih mudah. Bangsa Indonesia masih harus berjuang mempertahankan kemerdekaannya, terutama menghadapi agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai tanah air.

Dalam situasi ini, Muhammadiyah mengambil peran strategis. Sebagai organisasi Islam yang sudah memiliki jaringan luas di berbagai daerah, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada dakwah dan pendidikan, tetapi juga ikut serta dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadikusuma, KH Mas Mansyur, dan KH Abdul Kahar Muzakir memainkan peran penting dalam pergerakan nasional. Mereka tidak hanya terlibat dalam perjuangan politik, tetapi juga dalam membentuk moral dan semangat juang rakyat melalui ajaran Islam.

Di berbagai daerah, anggota Muhammadiyah ikut serta dalam perjuangan fisik, baik dalam bentuk laskar-laskar Islam maupun dalam memberikan dukungan logistik bagi para pejuang. Banyak kader Muhammadiyah yang bergabung dengan Laskar Hizbullah dan Sabilillah, yang menjadi bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ki Bagus Hadikusuma dan Perjuangan di BP-KNIP

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas legislatif sebelum terbentuknya parlemen yang sesungguhnya.

Salah satu tokoh Muhammadiyah yang memiliki peran besar dalam BP-KNIP adalah Ki Bagus Hadikusuma. Di dalam badan ini, Ki Bagus terus memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam dasar negara Indonesia yang baru lahir.

Dalam perdebatan konstitusional, Ki Bagus termasuk tokoh yang menolak konsep sekularisasi negara. Ia berusaha mempertahankan prinsip-prinsip Islam sebagai landasan moral dalam kehidupan bernegara. Namun, kompromi politik yang terjadi akhirnya membuat Piagam Jakarta diubah menjadi sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Meskipun demikian, Ki Bagus tetap menerima keputusan ini demi persatuan bangsa, dengan keyakinan bahwa Islam tetap bisa menjadi kekuatan moral dalam membangun negara yang merdeka dan berdaulat.

Laskar Muhammadiyah dalam Perang Kemerdekaan

Di medan perang, para pemuda Muhammadiyah tidak tinggal diam. Mereka bergabung dalam berbagai laskar perjuangan yang berjuang melawan Belanda dan sekutunya. Dua kelompok besar yang berisi banyak kader Muhammadiyah adalah Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

  1. Hizbullah: Pasukan ini berisi pemuda Islam yang telah dilatih sejak masa pendudukan Jepang. Mereka berperan dalam perang gerilya di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
  2. Sabilillah: Laskar ini terdiri dari para ulama dan tokoh Islam yang berperang dengan semangat jihad fi sabilillah, terutama dalam mempertahankan daerah-daerah strategis dari serangan Belanda.

Salah satu peristiwa penting yang melibatkan kader Muhammadiyah adalah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, di mana Laskar Hizbullah dan Sabilillah ikut bertempur bersama rakyat mempertahankan kota dari serangan Inggris dan Belanda.

Selain bertempur di garis depan, Muhammadiyah juga berperan dalam dukungan logistik dan layanan kesehatan bagi para pejuang. Rumah sakit Muhammadiyah di berbagai daerah menjadi tempat perawatan bagi para pejuang yang terluka.

Peran KH Mas Mansyur dalam Perjuangan

Salah satu tokoh Muhammadiyah yang paling dikenal dalam masa revolusi ini adalah KH Mas Mansyur. Sebagai anggota Empat Serangkai bersama Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara pada masa pendudukan Jepang, Mas Mansyur memiliki pengaruh besar dalam pergerakan nasional.

Setelah proklamasi, Mas Mansyur terus mendukung perjuangan kemerdekaan, baik secara politik maupun moral. Namun, akibat tekanan dan kelelahan dalam perjuangan, kesehatannya memburuk. Pada Desember 1946, KH Mas Mansyur wafat dalam kondisi ditahan oleh Belanda.

Wafatnya Mas Mansyur menjadi kehilangan besar bagi Muhammadiyah dan perjuangan nasional. Namun, semangatnya tetap hidup dalam kader-kader Muhammadiyah yang terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan.

Muhammadiyah dalam Konferensi Nasional Islam

Pada masa revolusi, umat Islam di Indonesia berusaha menyatukan langkah untuk menghadapi tantangan baru sebagai bangsa yang merdeka. Salah satu upaya penting yang dilakukan adalah Konferensi Nasional Islam pada tahun 1947.

Dalam konferensi ini, berbagai organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah, berkumpul untuk membahas masa depan umat Islam dalam negara Indonesia yang baru. Muhammadiyah mengambil peran aktif dalam pembahasan ini, terutama dalam menegaskan bahwa Islam harus tetap menjadi pedoman moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konferensi ini juga menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebagai partai politik Islam yang akan mewakili aspirasi umat Islam di tingkat nasional.

Ki Bagus Hadikusuma dan tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya ikut serta dalam perumusan kebijakan-kebijakan politik Islam yang akan diusung dalam perjuangan kemerdekaan.

Muhammadiyah dan Perundingan dengan Belanda

Saat perang kemerdekaan berlangsung, beberapa perundingan antara Indonesia dan Belanda dilakukan untuk mencari solusi damai. Muhammadiyah, sebagai bagian dari elemen perjuangan nasional, ikut serta dalam mendukung perundingan ini.

Namun, banyak kader Muhammadiyah yang tetap waspada terhadap niat Belanda. Mereka percaya bahwa kemerdekaan harus dipertahankan dengan segenap tenaga, dan tidak boleh ada kompromi yang merugikan bangsa.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada tahun 1947, Muhammadiyah kembali menyerukan perlawanan total terhadap penjajah. Di berbagai daerah, kader Muhammadiyah ikut serta dalam perang gerilya yang dipimpin oleh para komandan lokal.

Muhammadiyah di Tengah Perubahan Politik

Pada akhir 1949, Indonesia akhirnya berhasil mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda. Muhammadiyah, yang telah berjuang sejak awal revolusi, kini menghadapi tantangan baru: bagaimana membangun bangsa yang merdeka dengan nilai-nilai Islam yang tetap teguh.

Setelah perang usai, Muhammadiyah kembali fokus pada bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Sekolah-sekolah Muhammadiyah yang sempat terganggu akibat perang kembali dibangun, dan jaringan dakwah diperluas ke berbagai daerah.

Namun, tantangan baru muncul dalam bentuk perubahan politik nasional, terutama dengan munculnya berbagai ideologi baru yang mulai mempengaruhi arah kebijakan negara. Bagaimana Muhammadiyah menghadapi dinamika politik di era awal kemerdekaan?

(Bersambung ke Episode 6: Muhammadiyah dalam Dinamika Politik Nasional).

Halal Bil Halal Prolanis: Cek Kesehatan dan Senam Bersama

JAKARTAMU.COM | Kegiatan Prolanis, Sabtu 5 April 2025 di Lodji Londo diisi dengan cek tensi, senam bersama dan informasi...

More Articles Like This