JAKARTAMU.COM | Haji Soedarsono Prodjokusumo, yang akrab disapa Pak Prodjo, merupakan tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah, terutama sebagai pencetus berdirinya Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM). Lahir pada 31 Agustus 1922 di Manongan, Turi, Sleman, Yogyakarta, beliau adalah putra sulung dari H. Abdurrahman Martosupadmo, seorang pendiri dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sidoarjo serta kepala sekolah Kesultanan di Yogyakarta. Sejak kecil, Pak Prodjo telah terpapar aktivitas keagamaan dan pendidikan yang dijalankan ayahnya, membentuk karakter dan dedikasinya terhadap Muhammadiyah.

Pendidikan dan Karier Militer
Pak Prodjo menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Muhammadiyah, dan Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK) di Yogyakarta. Pada malam hari, beliau belajar di Madrasah Wustho, memperdalam ilmu agama. Tahun 1942, beliau mengikuti kursus analisa gula di Yogyakarta dan bekerja di Pabrik Gula Padokan/Madukismo, Bantul. Namun, minatnya lebih condong ke bidang hukum, sehingga pada 1943 beliau mengikuti kursus pembantu jaksa di Jakarta dan kemudian bekerja sebagai pembantu jaksa di Kantor Kejaksaan Yogyakarta hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Setelah proklamasi, Pak Prodjo masuk Akademi Militer Yogyakarta pada tahun 1945 hingga 1948, termasuk dalam angkatan pertama akademi tersebut. Selama masa pendidikan, beliau turut serta dalam berbagai operasi militer, termasuk penumpasan pemberontakan PKI/Musso di Madiun pada 1948 dan perjuangan mempertahankan Yogyakarta saat Agresi Militer Belanda II. Setelah Indonesia merdeka, beliau berdinas di Kementerian Pertahanan RI di Jakarta dan mengikuti kursus administrasi militer di Bandung. Karier militernya berlanjut hingga pensiun dengan pangkat kolonel pada tahun 1975.
Peran dalam Muhammadiyah dan Pendirian KOKAM
Meskipun aktif dalam militer, Pak Prodjo tetap konsisten dalam aktivitas Muhammadiyah. Tahun 1952, saat bertugas di Jakarta dan tinggal di Kebayoran Baru, beliau menjadi Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru merangkap Bagian Pengajaran. Perannya semakin signifikan ketika menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta pada 1956-1962 dan kemudian sebagai Ketua PWM DKI Jakarta merangkap Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran pada 1962.

Setelah Muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung tahun 1965, Pak Prodjo menggagas pendirian beberapa organisasi otonom di Muhammadiyah, antara lain:
- Ikatan Karyawan Muhammadiyah (IKM): Organisasi ini bertujuan untuk menghimpun dan membina karyawan Muhammadiyah agar lebih profesional dan berdedikasi dalam pekerjaannya.
- Ikatan Seniman dan Budayawan Muhammadiyah (ISBM): Dibentuk untuk mewadahi para seniman dan budayawan dalam lingkungan Muhammadiyah, mendorong pengembangan seni dan budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
- Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM): Didirikan sebagai respons terhadap situasi nasional pasca Gerakan 30 September 1965, KOKAM berfungsi sebagai unit pengamanan dan kesiapsiagaan dalam tubuh Muhammadiyah, dengan Pak Prodjo sebagai komandannya.
Kontribusi dalam Pendidikan Muhammadiyah
Pak Prodjo memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Jakarta. Tahun 1955, ketika Majelis Pendidikan dan Kebudayaan PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Departemen Agama RI untuk mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), beliau ditunjuk sebagai sekretaris panitia pembangunan. Perguruan tinggi ini kemudian berkembang menjadi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 1958, dan akhirnya menjadi IKIP Muhammadiyah Jakarta pada 1965.
Di Cipulir, Pak Prodjo membangun gedung darurat untuk SD Muhammadiyah di atas tanah seluas 3.000 meter persegi yang diwakafkannya. Sekolah ini berkembang menjadi kompleks Perguruan Muhammadiyah Cipulir yang terdiri dari TK ABA, SD, SMP, hingga SMA. Beliau juga berperan dalam pemindahan Universitas Muhammadiyah Jakarta ke Cirendeu, Ciputat, pada tahun 1982, serta pembentukan Dewan Pembina Perguruan Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.
Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah
Perhatian Pak Prodjo terhadap pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sangat besar. Beliau aktif memberikan ceramah, menulis, dan bertindak langsung dalam membina generasi muda Islam yang ideal, yaitu mereka yang rajin berusaha memenuhi kebutuhan hidup beragama, bernegara, pendidikan, spiritual, serta keamanan dan ketenteraman. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Pendidikan dan Kebudayaan PP Muhammadiyah, beliau banyak berperan dalam pembentukan dan pembinaan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menekankan pentingnya sifat-sifat kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW: shidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.
Kepedulian terhadap Kaum Dhuafa
Pak Prodjo juga menunjukkan kepedulian yang besar terhadap kaum dhuafa. Beliau menekankan pentingnya aksi nyata dalam membantu anak-anak yatim, orang miskin, dan mereka yang terkena musibah. Di daerah Kebayoran Baru, beliau menginisiasi pembentukan Unit Santunan Duka untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.