JAKARTAMU.COM | Berkaitan dengan masalah kesucian harta, Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya berupa halal dan haram. Dalam kehidupan, ada tiga ketetapan Allah yang menjadi pedoman utama:
- Takdir: Semua yang Allah ciptakan di alam raya ini.
- Perintah dan Larangan: Ibadah serta kewajiban menjauhi yang diharamkan.
- Aturan: Batasan antara halal dan haram, serta tata cara berinteraksi dengan harta dan sesama manusia.
Manusia yang sukses adalah mereka yang sabar dan ridha dalam menghadapi takdir, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta mematuhi aturan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Namun, di zaman modern ini, banyak orang yang mengabaikan prinsip halal dan haram dalam mencari rezeki. Mereka hanya berfokus pada hasil dan keuntungan tanpa memperhatikan keberkahan di dalamnya. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan hal ini jauh sebelum kita hidup di era sekarang:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Maka, ketika fenomena ini semakin meluas di akhir zaman, jadilah seorang hamba yang dikecualikan, yaitu mereka yang tetap berpegang teguh pada kebaikan dan kejujuran. Harta yang diperoleh dari cara yang haram akan membawa dampak buruk bagi diri dan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Surga adalah tempat yang paling suci, lebih suci dari seluruh tempat di muka bumi. Maka, sudah seharusnya kita menyucikan diri dari harta yang haram agar layak memasuki tempat yang mulia itu. Jika tubuh seseorang tercemar dengan makanan dan pakaian haram, maka harapan dan doanya pun akan sulit terkabul. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172).”
Kemudian Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan seorang lelaki yang telah lama bepergian dalam keadaan lusuh dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, seraya berdoa: “Ya Rabbku, Ya Rabbku.”
Namun, makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari sesuatu yang haram. Ia pun dikenyangkan dengan yang haram. Maka, bagaimana mungkin doanya bisa dikabulkan? (HR. Muslim, no. 1015).
Dari sini, kita belajar bahwa harta yang kita peroleh tidak hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga berpengaruh pada hubungan kita dengan Allah. Jika ingin doa kita mustajab, jika ingin hati kita bersih, jika ingin hidup penuh berkah, maka sucikanlah harta yang kita miliki.
Jangan tergoda oleh keuntungan dunia yang instan tetapi haram. Sebab, yang haram tidak akan pernah membawa keberkahan, melainkan justru menjadi sebab kesengsaraan di dunia dan akhirat. (Dwi Taufan Hidayat)