Oleh. Fathorrahman Fadli | Direktur Eksekutif Indonesia Development Research (IDR) dan Dosen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
RELASI manusia dan kekuasaan senantiasa menjadi topik yang segar dan selalu up to date. Jika ada seseorang belajar berkuasa, biasanya diikuti oleh perubahan sikap dan laku dirinya dalam pergaulan sosial mereka.
Menjadi orang yang berkuasa, sejatinya bukan perkara mudah. Ia harus belajar banyak hal tentang kehidupan mulai sosiologi dan antropologi budaya, politik, sejarah, ekonomi, matematika, pertahanan negara, militer, pemikiran filsafat, dinamika sosial, diplomasi, perkembangan agama-agama, Islam dan aspirasi umat Islam, psikologi sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kebijakan publik dan konsekuensinya, serta pembangunan sosial lainnya.
Hari ini, pos pos kekuasaan itu tidak lagi ditempati oleh orang orang yang banyak belajar tentang kehidupan itu sendiri. Walhasil, sang pemimpin hanya memikirkan dirinya sendiri dan enggan melihat masyarakat sebagai satu kesatuan ekosistem sosial yang hidup dinamis. Bahkan akhir-akhir ini, kita banyak sekali melihat seseorang—-yang karena posisinya sekarang—diharapkan menjadi pemimpin, malah justru ia sendiri merusak dirinya sebagai bukan pemimpin. Ini tentulah sebuah kerugian besar dan bentuk kebodohan yang merisaukan kita sebagai bangsa.
Sembilan pilar Ilmu
Sejalan dengan upaya menjadi pemimpin yang baik, maka seorang pemimpin negara harus memiliki beberapa ilmu penting agar bisa menjalankan pemerintahan dengan baik. Mulai dari ilmu politik, ilmu hukum, ilmu ekonomi dan keuangan, ilmu sosial dan budaya, ilmu sejarah, ilmu manajemen dan administrasi publik, ilmu militer dan pertahanan negara, ilmu diplomasi dan hubungan internasional, serta ilmu psikologi dan kepemimpinan.
Mengapa ilmu politik itu penting bagi seorang pemimpin? Sebab dengan menguasai ilmu politik, seorang pemimpin dapat memahami sistem pemerintahan, kebijakan publik, dan cara kerja lembaga negara.
Mengapa pula seorang pemimpin penting menguasai ilmu hukum? Sebab ilmu hukum akan menuntun jalan seorang pemimpin agar dia dapat menegakkan keadilan, memahami konstitusi, dan memastikan kebijakan sesuai dengan aturan.
Lalu bagaimana dengan ilmu ekonomi dan keuangan? Ilmu ekonomi dan keuangan akan memberi tahu seorang pemimpin agar mampu mengelola anggaran negara, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Tanpa ilmu ekonomi, seorang pemimpin tidak akan mampu mensejahterakan rakyatnya. Jika hal itu terjadi, maka pemimpin tersebut hadir sebagai pembawa malapetaka, bukan hadir sebagai pembawa berkah dan pengungkit kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.
Apakah kompetensi seorang pemimpin hanya sampai di situ? Ternyata, itu tidak cukup. Seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan di seputar Ilmu Sosial dan Budaya. Terutama masyarakat yang akan dipimpinnya. Mengapa ilmu sosial itu penting bagi seorang pemimpin? Sebab seorang pemimpin sangat diperlukan guna memahami karakter masyarakat, mengelola perbedaan, serta menjaga persatuan dan identitas bangsa.
Lagi-lagi ini saja tidak cukup. Seorang pemimpin juga harus menguasai sejarah. Pada yang demikian itu, seorang pemimpin membutuhkan pemahaman ilmu sejarah bangsanya dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Menguasai sejarah membuat pemimpin dapat menghindarkan diri usaha dan jebakan kesalahan masa lalu serta bisa mengambil pelajaran dari pemimpin sebelumnya.
Namun faktanya, banyak sekali pemimpin yang tidak memahami budaya masyarakatnya.
Hindari Kekacauan Publik
Seorang pemimpin sejauh mungkin menghindari kemungkinan terjadinya kekacauan publik.Sebab ketika mereka melahirkan kebijakan yang tidak pro rakyat maka besar kemungkinan dia tidak akan mendapatkan dukungan rakyat. Ketika tidak didukung rakyat, maka seluruh kebijakannya tidak akan pernah efektif. Oleh karena itu maka seorang pemimpin wajib memahami secara baik ilmu manajemen dan administrasi publik. Dengan demikian maka pemimpin tersebut dapat mengorganisir birokrasi dan memastikan program pemerintah berjalan efektif.
Sampai disini rasanya cukup ilmu pemimpin? Ternyata belum lengkap. Seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan ilmu militer dan pertahanan negara. Bagaimaa mungkin pemimpin tersebut dapat melindungi rakyatnya tanpa memahami konsep dan hakikat pertahanan negaranya? Pemimpin harus peduli pada ancaman dan tantangan yang sedang dan akan dihadapu bangsanya. Hal.ini penting untuk memastikan stabilitas nasional dan mempertahankan kedaulatan.
Dalam konteks menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional, mereka harus menjalin hubungan baik dengan negara-negara sahabat. Untuk itulah sang pemimpin harus mampu berdiplomasi dan membangun hubungan internasional yang baik dengan sebanyak mungkin negara di dunia.
Psikologi dan Kepemimpinan
Mengapa ilmu psikologi harus juga dikuasai oleh seorang pemimpin? Sebab dengan psikologi kita dapat memahami perilaku manusia, memotivasi rakyat, dan mengambil keputusan yang tepat di situasi sulit. Pada faktanya, banyak sekali kita temukan pemimpin, namun mereka tidak paham psiologi rakyatnyang dipimpinnya. Walhasil, jika mereka tidak dapat memahami aspirasi rakyatnya bisa dipastikan akan gagal kepemimpinanya.
Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan yang pro rakyat, penuh dedikasi yang tinggi untuk membela yang dipimpinnya, serta tidak lagi mengutamakan keluarganya. Dari sikap-sikap tersebut, seorang pemimpin akan berwibawa di mata rakyat dan otomatis akan mendapat dukungan besar guna menyukseskan program-programnya.
Selain ilmu, seorang pemimpin juga butuh karakter kuat, seperti keberanian, integritas, dan visi yang jelas.
Belajar dari Firaun
Dalam lintasan sejarah manusia, kita mengenal seorang penguasa hebat bernama Firaun. Ia adalah raja Mesir yang sombong, dzalim, kejam, dan tidak berperi-kemanusiaan. Ia membenci Nabi Musa dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Firaun juga tidak segan segan membunuh musuh-musuhnya, apalagi ia dikenal luas sebagai pembunuh semua anak laki-laki dari Bani Isra’il yang ia yakini akan merongrong kekuasaan dirinya.
Ternyata, kesombongan dan kepongahan Firaun itu justru menyebabkan dirinya jatuh dari singgasananya secara hina dan megenaskan. Firaun kemudian tewas secara mengenaskan di tengah-tengah lautan luas bersama para penjilat-penjilat kekuasaannya.
Jika seorang pemimpin hendak belajar dari kasus Firaun ini, tentu saja ada banyak kebaikan dan Hikmah dari kisah tersebut. Firaun mengajari kita bahwa kesombongan adalah penyebab kehancuran. Menyalahgunakan kekuasaan, kewenangan, dan kekayaan untuk kepentingan diri dan keluarga adalah sikap yang tidak sehat. Pertanyaannya? Apakah anda termasuk penguasa yang dzalim atau penjilat yang menjijikkan? Wallahualam.